CPO Menguat di Tengah Gejolak Timur Tengah dan Cuaca Buruk, Ringgit Jadi Pembatas

CPO Menguat di Tengah Gejolak Timur Tengah dan Cuaca Buruk, Ringgit Jadi Pembatas

trading sekarang

Gempuran geopolitik di Timur Tengah dan bayangan El Niño menjadikan pasar minyak nabati bergejolak, dan minyak sawit pun bersinar di tengah badai volatilitas global. Di saat banyak komoditas lain meredam gejolak, CPO menunjukkan respons yang tegas meski arah jangka pendek masih penuh ketidakpastian. Cetro Trading Insight menilai momentum saat ini berpotensi berlanjut, asalkan faktor fundamental terkait pasokan dan nilai mata uang tetap kondusif.

Harga kontrak Juli di Bursa Malaysia Derivatives naik 34 ringgit, atau 0,74 persen, menjadi 4.604 ringgit Malaysia per metrik ton pada jeda tengah hari. Sebelumnya, kontrak tersebut sempat turun hingga 0,42 persen. Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar minyak nabati yang dipengaruhi sentimen geopolitik dan ekspektasi pasokan.

Sandeep Singh, Direktur The Farm Trade yang berbasis di Kuala Lumpur, menyebut konflik di Timur Tengah, ancaman El Niño, serta potensi cuaca buruk yang dapat mengganggu produksi sebagai penopang harga. Ia juga menilai lemahnya permintaan akibat ketidakpastian ekonomi global menjadi risiko utama bagi kenaikan lebih lanjut. Selain itu, penguatan ringgit turut menekan harga, karena membuat CPO lebih mahal bagi pembeli berdenominasi mata uang asing.

ParameterNilai
CPO Juli (RM/ton)4,604
Perubahan+0,74%
Ekspor Malaysia (April)Diperkirakan turun 15,3–16,2%

Permintaan minyak sawit dipandang masih menjadi salah satu kendala utama bagi harga, dengan konsensus pasar yang pro-kontra terkait pertumbuhan ekonomi global. Sektor biodiesel juga menghadapi tekanan karena harga CPO yang lebih mahal, sehingga penggunaan biodiesel tidak seproses sebelumnya. Analis menyatakan bahwa faktor permintaan tetap menjadi kunci penentu arah harga ke depan.

Ringgit Malaysia menguat sekitar 0,3 persen terhadap dolar AS, menambah beban biaya bagi pembeli berdenominasi mata uang asing. Penguatan mata uang lokal ini menjadi faktor penghambat bagi reli harga CPO karena membuat produk Malaysia lebih mahal di pasar internasional. Pasar juga memantau faktor eksternal seperti stabilitas politik dan kebijakan perdagangan yang dapat mempengaruhi arus modal.

Surveyor kargo melaporkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada April diperkirakan turun 15,3% hingga 16,2% dibanding bulan sebelumnya, menambah tekanan pada prospek pasokan global. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menunjukkan kenaikan tipis, menunjukkan korelasi harga antar minyak nabati. Penutupan Dalian Commodity Exchange untuk libur turut membatasi dinamika perdagangan minyak sawit dalam periode tersebut.

Para produsen biodiesel menghadapi tantangan dari margin yang terserap oleh biaya input yang lebih tinggi, membuat beberapa perusahaan meragukan peningkatan kapasitas produksi. Meski demikian, peningkatan biaya tanah, tenaga kerja, dan transportasi turut memengaruhi biaya produksi secara keseluruhan. Cetro Trading Insight menggarisbawahi bahwa volatilitas harga energi bisa memberikan peluang bagi penyesuaian strategi operasional.

Ketidakpastian geopolitik dan cuaca El Niño tetap menjadi risiko utama bagi suplai minyak sawit, sementara dinamika kebijakan perdagangan dapat mengubah pola ekspor. Badan Pusat Statistik Indonesia melaporkan ekspor minyak sawit mentah dan olahan naik 9,3 persen yoy pada kuartal pertama, yang menunjukkan demand domestik dan regional tetap kuat meskipun ada tekanan eksternal. Investor perlu mencermati rilis data ekonomi dan laporan cuaca El Niño untuk menilai peluang jangka menengah.

Untuk pasar secara umum, proyeksi harga minyak mentah global yang bertahan di atas ambang USD100 per barel menunjukan bahwa sensitivitas terhadap faktor geopolitik masih tinggi. Kendati demikian, tingkat risiko relatif pada 1:1,5 atau lebih favorable jika investor menjaga alokasi risiko melalui diversifikasi. Secara keseluruhan, analisa fundamental menunjukkan bahwa pergeseran permintaan, supply chain minyak nabati, dan nilai tukar menjadi penentu utama arah CPO dalam kuartal mendatang.

banner footer