
Harga minyak sawit mentah (CPO) melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (22/7/2026), mengikuti pelemahan minyak nabati pesaing di Bursa Dalian dan Chicago. Pada jeda perdagangan siang, kontrak CPO acuan untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives turun 0,28 persen menjadi 4.597 ringgit per ton. Pergerakan turun ini menunjukkan bahwa harga CPO masih rentan terhadap dinamika harga minyak nabati global meski dukungan dari faktor dalam negeri tetap ada.
Dalam konteks ini, persaingan antara minyak nabati global menambah tekanan teknikal, sementara faktor regional dan kebijakan domestik memberikan campuran sinyal yang perlu diuraikan. Harga CPO sering terikat pada pergerakan minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global. Ketidakpastian ini membuat investor perlu membedah faktor penopang harga secara lebih terperinci.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menekankan bahwa diskon harga CPO terhadap minyak nabati pesaing, serta potensi El Nino dan rencana kebijakan mandatori B50 di Indonesia, tetap menjadi faktor penopang meski ada tekanan teknikal. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kenaikan campuran biodiesel dari B40 ke B50 diperkirakan meningkatkan konsumsi CPO menjadi sekitar 16,3-17 juta ton. Sementara itu, Malaysian Palm Oil Council memperkirakan harga CPO Malaysia berada dalam kisaran 4.400-4.650 ringgit per ton pada Agustus 2026, menandakan volatilitas yang wajar di pasar komoditas.
Sejalan dengan narasi harga, Indonesia telah mengalokasikan 15,64 juta kiloliter biodiesel dalam program B40 sepanjang tahun ini. Namun, hingga saat ini belum ada kuota tambahan untuk implementasi program B50. Kondisi ini menciptakan dinamika volatilitas pada pasar CPO, karena ekspektasi peningkatan konsumsi biodiesel dapat mendorong permintaan CPO lebih tinggi meski kebijakan yang belum final.
Di sisi lain, potensi peningkatan konsumsi B50 diharapkan mendorong utilisasi CPO menjadi lebih tinggi. Analisis kebijakan menunjukkan bahwa perubahan kuota mandatori dapat merombak pola pembelian biodiesel dan mempengaruhi harga CPO dalam jangka menengah. Pasar juga menunggu klarifikasi mengenai kapan kuota tambahan B50 akan diberlakukan dan bagaimana produsen akan menyesuaikan rantai pasokan.
Menteri ESDM menegaskan bahwa hasil kebijakan tersebut akan bergantung pada keseimbangan antara biaya produksi, suplai CPO, serta kesiapan infrastruktur biodiesel. Sementara itu, estimasi MOC memperkirakan volatilitas harga bisa berlanjut hingga Agustus adalah sinyal penting bagi investor. Secara keseluruhan, kebijakan biodiesel menjadi elemen utama yang bisa mengubah arah tren CPO setidaknya jika kuota B50 terealisasi dengan jelas.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa meski tekanan teknikal menahan pergerakan turun, sinyal dasar pasar tetap mendukung potensi rebound jika kebijakan B50 terealisasi. Data harga hari ini menunjukkan CPO berada di ujung-ujung rentang evaluasi, dengan peluang bagi pembalikan arah jika dukungan biodiesel mewujud nyata. Dalam kerangka makro komoditas, CPO bisa mendapat dorongan dari potensi pengetatan pasokan global dan permintaan biodiesel domestik.
Forecast harga Agustus oleh Malaysian Palm Oil Council menetapkan kisaran 4.400-4.650 RM/ton, menandakan ketidakpastian yang masih tinggi namun ada batas bawah yang relatif kuat. Investor perlu memantau rencana kuota B50 dan kondisi El Nino yang dapat mempengaruhi produksi dan harga. Dari sisi risiko, persaingan dengan minyak nabati lain dan perubahan kebijakan dapat membentuk volatilitas jangka pendek.
Rekomendasi bagi pelaku pasar adalah memanfaatkan pergerakan pullback untuk masuk posisi long pada konteks fundamental positif, dengan target harga yang memperhitungkan risiko dan potensi laba. Gunakan strategi manajemen risiko yang ketat karena volatilitas komoditas tinggi dan dinamika kebijakan biodiesel bisa berubah dengan cepat. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan kebijakan B50, input biaya produksi, serta indikator teknikal global untuk memberikan panduan lebih lanjut.