
Berita mengguncang: PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melesat menembus kinerja 2025 dengan pendapatan sebesar USD1,21 miliar—lonjak 51,63% dibandingkan 2024. Lonjakan ini menegaskan arah perusahaan menuju raksasa pertambangan terintegrasi yang siap mengambil peluang di dalam ekosistem energi nasional. Menurut Cetro Trading Insight, tren ini menunjukkan fondasi yang kuat untuk ekspansi jangka menengah hingga panjang.
Transformasi bisnis CUAN menuju model terintegrasi didorong oleh rencana akuisisi Singaraja Putra SINI melalui afiliasi Perseroan, termasuk kerja sama dengan Petrosea Tbk PTRO. Langkah ini dirancang untuk memperkuat ekosistem tambang, jasa pertambangan, dan infrastruktur logistik dalam satu kerangka yang saling menguatkan. Transisi kebijakan ini juga berpotensi mengubah struktur biaya serta alur nilai bagi pemegang saham.
Pada Desember 2025, CUAN melalui Kreasi Jasa Persada menguasai 19,99% SINI dan tengah mengikuti proses right issue. Setelah transaksi selesai, proyeksi kepemilikan CUAN diperkirakan meningkat menjadi setidaknya 29% di SINI, membuka pintu bagi sinergi operasional yang lebih luas. Direktur Utama CUAN, Michael, menegaskan langkah akuisisi ini bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat aset, memperluas jaringan usaha, serta membangun perusahaan pertambangan dan jasa pertambangan yang terintegrasi.
Keterangan resmi ini mencerminkan arah perusahaan untuk membangun ekosistem yang tidak hanya mengandalkan cadangan sumber daya, tetapi juga kemampuan operasional dan infrastruktur pendukung yang dapat mempercepat transaksi lintas segmen dalam rantai nilai pertambangan.
Secara teknis, total cadangan yang dimiliki perusahaan dan anak usaha diperkirakan mencapai sekitar 378 juta ton batubara. Angka cadangan ini menegaskan potensi pasokan yang dapat didorong melalui ekspansi produksi dan pemanfaatan infrastruktur tambahan yang sedang direncanakan. Dengan sinergi SINI, CUAN berupaya mengubah skala produksi melalui kapasitas yang lebih besar dan rantai pasok yang lebih efisien.
Melalui akuisisi SINI, CUAN menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap hingga melampaui 30 juta ton per tahun pada 2031, sebuah posisi yang bisa menempatkan grup di antara enam produsen batu bara terbesar di Indonesia. Proyeksi ini juga mempertimbangkan peningkatan penggunaan infrastruktur serta kemampuan logistik yang mampu menangani volume besar per tahun.
Nilai strategis transaksi tidak hanya soal penambahan cadangan, tetapi juga integrasi model bisnis yang menggabungkan kepemilikan sumber daya, kemampuan operasional Petrosea, serta infrastruktur logistik yang terhubung untuk mengantisipasi lonjakan volume produksi tanpa mengorbankan efisiensi operasional.
Langkah operasional CUAN mencakup pengembangan infrastruktur jalan tambang untuk mendukung all-weather road, penggunaan double trailer, dan pengembangan armada kendaraan listrik EV truck guna meningkatkan efisiensi logistik dan produktivitas. Upaya ini sejalan dengan fokus pada pengurangan biaya dan peningkatan utilisasi aset sepanjang rantai pasok tambang.
Integrasi antara tambang, jasa pertambangan, dan infrastruktur logistik di satu platform usaha dipandang sebagai pendorong utama nilai tambah di seluruh rantai nilai pertambangan Perseroan. Hal ini dapat memperkuat posisi kompetitif CUAN dalam menghadapi volatilitas harga komoditas serta perubahan permintaan energi domestik.
Meskipun prospek relatif cerah, investor perlu memantau implementasi rencana akuisisi, realisasi produksi, serta dinamika harga batu bara yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan. Dari sisi kebijakan operasional, faktor eksekusi dan integrasi antar anak usah menjadi kunci untuk mewujudkan target produksi jangka menengah.