
DAAZ Bagikan Dividen Tunai Rp39 per Saham di Tengah Laba 2025 Turun 42% — Analisis Kinerja dan Prospek\
PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melaporkan kinerja keuangan 2025 dengan fokus pada laba bersih dan pendapatan. Laba bersih tercatat sebesar Rp263,73 miliar per 31 Desember 2025, turun 42,1% jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Angka ini menandai tekanan yang signifikan pada laba bersih meski ada beberapa aspek operasional yang membaik.
Di sisi lain, pendapatan DAAZ mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Pendapatan 2025 mencapai Rp13,41 triliun, tumbuh sekitar 32,3% dibanding realisasi 2024 sebesar Rp10,13 triliun. Pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan ekspansi usaha dan peningkatan aktivitas yang saat ini dijalankan perusahaan.
Penurunan laba bersih terjadi karena tekanan pada seluruh lapisan laba, meski pendapatan meningkat. Faktor-faktor tersebut termasuk kenaikan biaya operasional dan biaya lain yang relatif tidak sepenuhnya terkompensasi oleh peningkatan pendapatan, sehingga margin laba terdorong turun.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 9 Juni 2026 menyetujui pembayaran dividen tunai sebesar Rp77,88 miliar untuk tahun buku 2025. Secara rinci, dividen tersebut setara Rp39 per saham bagi pemegang saham yang memenuhi syarat.
Berikut jadwal pembagian dividen tunai DAAZ yang perlu diperhatikan investor. Jadwal ini mencakup fase cum dan ex di pasar reguler, pasar negosiasi, serta pasar tunai, serta tanggal daftar pemegang saham berhak menerima dividen dan pembayaran tunai.
| Keterangan | Waktu |
|---|---|
| Cum Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi | 18 Juni 2026 |
| Ex Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi | 19 Juni 2026 |
| Cum Dividen di Pasar Tunai | 22 Juni 2026 |
| Ex Dividen di Pasar Tunai | 23 Juni 2026 |
| Daftar Pemegang Saham berhak atas dividen tunai | 22 Juni 2026 |
| Tanggal Pembayaran Dividen | 10 Juli 2026 |
Secara umum, kinerja DAAZ menunjukkan kombinasi antara ekspansi usaha dan tekanan laba. Kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan pendapatan sambil mengelola biaya menjadi fokus utama bagi investor dalam beberapa kuartal mendatang. Transformasi operasional yang sedang dijalankan perlu menyeimbangkan antara skala usaha dan efisiensi biaya.
Dividen tunai sebesar Rp39 per saham menjadi bagian dari nilai tambah bagi pemegang saham jangka pendek, terutama bagi investor yang mencari aliran pendapatan dari investasi di saham. Namun, risiko utama masih berasal dari tekanan margin dan dinamika biaya yang perlu diatasi untuk mempertahankan tingkat pengembalian yang sehat.
Bagi investor, rekomendasi utama adalah memantau pelaporan kuartal berikutnya serta arahan manajemen mengenai margin operasional dan target pendapatan. Karena sinyal pasar sangat bergantung pada bagaimana DAAZ mengelola biaya dan merealisasikan rencana ekspansi, keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan horizon waktu masing-masing investor.