DBS Group Research menyatakan bahwa deklarasi darurat energi nasional Filipina sebagai respons terhadap risiko pasokan dari konflik di Timur Tengah berpotensi menekan inflasi, memperlambat pertumbuhan, dan menekan peso. Para analis menyoroti tekanan pada pasar onshore, peso melemah ke level terendah sepanjang sejarah, dan kinerja ekuitas domestik yang tertahan. Dalam konteks kebijakan, BSP diperkirakan mempertahankan jeda kebijakan yang lebih panjang sambil menghapus satu potongan pemangkasan yang sebelumnya diproyeksikan.
Sebelum konflik Timur Tengah merebak, proyeksi pertumbuhan resmi Filipina telah dipangkas menjadi 4.6% untuk 2026 dan 5.9% untuk 2027 (dibandingkan 5.4% dan 6.3% sebelumnya). Faktor-faktor lain seperti penyelidikan terkait korupsi dan disbursement publik yang melambat turut menekan outlook, meski bank sentral telah memangkas 225 basis poin sebelumnya. Dinamika ini menambah tekanan terhadap neraca fiskal dan nilai tukar, meningkatkan fokus pada risiko kebijakan di tengah ketidakpastian energi.
Dampak dari ketidakpastian energi memperkuat keprihatinan atas prospek inflasi dan nilai tukar. BSP cenderung berhati-hati untuk menurunkan suku bunga di lingkungan ini, sehingga extended pause menjadi pilihan utama. DBS menegaskan bahwa satu pemangkasan terakhir telah dihapus dari proyeksi baseline. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang menilai dinamika makro dan pasar keuangan.
Pasar keuangan onshore Filipina telah berada di bawah tekanan. Peso melemah ke level terendah sepanjang sejarah dan kinerja pasar saham regional relatif tertinggal sepanjang bulan, menambah volatilitas dan kekhawatiran terkait biaya impor serta dampak terhadap inflasi di kuartal mendatang. Kondisi ini menambah beban bagi penilaian aset lokal dan aliran modal asing.
Dalam konteks ini, pelaku pasar akan mengamati arah kebijakan BSP dan bagaimana bank sentral menimbang risiko pertumbuhan terhadap tekanan harga. Kemungkinan penurunan lebih lanjut cenderung tertahan jika risiko pasokan energi tetap tinggi, sehingga jalur kebijakan bisa lebih cocok ditempuh melalui jeda yang lebih lama daripada pemangkasan agresif. Sinyal pasar menekankan kehati-hatian terhadap pelonggaran lebih lanjut pada saat ini.
Investor perlu memantau dinamika fiskal serta likuiditas domestik. Disbursement publik yang lambat dan volatilitas mata uang dapat mempengaruhi pendanaan serta valuasi aset. Secara keseluruhan, Filipina tetap rentan terhadap kejutan eksternal namun menawarkan peluang bagi investor jangka menengah jika volatilitas mereda.
Kebijakan moneter BSP diperkirakan akan tetap berhati-hati dengan jeda panjang sebagai kerangka utama, sejalan dengan risiko pasokan energi dan dinamika inflasi. Bank sentral cenderung menghindari pemangkasan besar jika tekanan harga dan volatilitas pasar tetap tinggi. Keputusan untuk menghapus pemangkasan terakhir dari baseline forecast menambah gambaran kehati-hatian di pasar keuangan.
Proyeksi pertumbuhan untuk 2026 dan 2027 telah direvisi menjadi 4.6% dan 5.9% masing-masing, mencerminkan dampak negatif dari faktor eksternal dan penyesuaian domestik. Meskipun pemangkasan kebijakan telah berkurang, kebijakan fiskal dan dinamika perdagangan tetap menjadi faktor utama yang membentuk lintasan inflasi dan nilai tukar.
Dengan konteks ini, kebijakan yang berkelanjutan akan bergantung pada bagaimana geopolitik, disbursement publik, dan sinyal harga energi saling berinteraksi. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan untuk pembaca yang ingin memahami implikasi bagi pasar keuangan Filipina.