Menurut tim Danske Research, fokus utama pada rilis Februari adalah laporan pekerjaan AS. Mereka memperkirakan Nonfarm Payrolls (NFP) akan melambat menjadi sekitar 70 ribu pekerjaan, dan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,3 persen. Indikator ketenagakerjaan berfrekuensi tinggi menyiratkan perbaikan kondisi pasar kerja menuju Februari, meskipun pelambatan pertumbuhan NFP diharapkan moderat. Dalam konteks ini, kami, Cetro Trading Insight, menilai bahwa data ini menjadi jalur kunci untuk arah dolar dan pasar obligasi.
Klaim pengangguran mingguan berada di level rendah 213 ribu untuk minggu yang berakhir 28 Februari, data yang konsisten dengan pelemahan pengangguran. Klaim berkelanjutan sedikit meningkat, namun perubahan yang berarti masih jarang. Laporan Challenger Februari menunjukkan berkurangnya pengumuman PHK meski laporan perekrutan tetap moderat, turun dari 108 ribu menjadi sekitar 48,3 ribu SA. Sementara itu, pesanan produktivitas Q4 tumbuh 2,8% secara tahunan terhadap kuartal sebelumnya, mengundang kenaikan biaya tenaga kerja per jam (unit labor costs) menjadi 2,8% secara q/q annual rate. Secara keseluruhan, tekanan biaya tenaga kerja relatif menurun dalam konteks historis.
Rilis data tenaga kerja yang kuat berpotensi menekan imbal hasil obligasi AS dan Swap Rates jika ekspektasi terpenuhi. Pasar telah menunjukkan peningkatan volatilitas melalui indeks VIX dan Move, meski perubahan pada Schatz ASW-spread masih tidak signifikan sehingga risiko pasar secara keseluruhan belum menunjukkan pergeseran besar seperti pada periode sebelumnya.
Indikator frekuensi tinggi yang menunjukkan perbaikan pasar tenaga kerja menjelang Februari, termasuk klaim pengangguran dan laporan ADP, sejalan dengan proyeksi perlambatan NFP yang moderat. Jika data rilis lebih kuat dari ekspektasi, arah imbal hasil obligasi bisa menguat dan yield curve menjadi lebih curam. Dalam konteks ini, data NFP yang lebih baik berpotensi menambah tekanan pada yield dan swap rates, menjaga dolar tetap rentan terhadap kejutan data.
Nilai volatilitas pasar menanjak melalui VIX dan Move index, serta penyebaran kredit melebar seperti ITRAX, meski pergerakan pada Schatz ASW-spread cenderung terbatas. Kenaikan volatilitas ini menandai peningkatan antisipasi pasar terhadap data rilis, namun tidak ada sinyal risiko-off yang kuat pada saat ini.
Arah dolar dan imbal hasil akan sangat bergantung pada bagaimana NFP dan tingkat pengangguran memperkuat atau melemahkan tekanan kebijakan moneter. Data tenaga kerja yang tetap solid bisa mendukung pengetatan kebijakan, sedangkan data lemah bisa mendorong ekspektasi pelonggaran yang menahan imbal hasil dan lebih melemahkan dolar.
Dengan latar belakangan ini, kebijakan The Fed kemungkinan tetap menjadi fokus utama investor. Data tenaga kerja yang relatif seimbang bisa menjaga ekspektasi bahwa langkah kebijakan akan disesuaikan secara bertahap, sementara angka yang kuat bisa mendorong yield lebih tinggi dan menguatkan proyeksi kebijakan hawkish. Namun, dinamika ini tetap berada dalam kerangka data ekonomi yang berubah-ubah.
Untuk trader, penting memantau rilis NFP, tingkat pengangguran, dan biaya tenaga kerja karena faktor-faktor ini adalah penggerak utama gairah pasar. Rekomendasi manajemen risiko menyarankan menjaga rasio risiko/imbalan minimal 1:1,5 jika ada peluang trading, dengan target profit (tp) lebih tinggi dari harga buka (open) pada posisi beli, atau sebaliknya untuk posisi jual. Karena pasar ini sangat sensitif terhadap data ketenagakerjaan, penempatan stop loss perlu ditempatkan di level yang membatasi kerugian jika data datang meleset.
Secara keseluruhan, laporan pekerjaan Februari menegaskan bahwa pergerakan pasar sangat bergantung pada data tenaga kerja. Meski pasar tetap berhati-hati, kapasitas pasar untuk menilai perubahan di pasar tenaga kerja akan menentukan arah dolar serta tingkat imbal hasil dalam beberapa minggu ke depan. Cetro Trading Insight menyarankan pembaca memantau rilis data berikutnya agar bisa menilai momentum secara tepat.