
Analisis terbaru menunjukkan pelemahan pada harga logam mulia memberi tekanan langsung pada mata uang yang paling terekspos terhadap terms of trade. Negara dengan eksposur signifikan pada logam seperti platina dan PGMs, yaitu Afrika Selatan, serta Peru yang merupakan produsen perak terbesar ketiga di dunia, rentan terhadap penurunan tersebut. Ketidakpastian harga logam berdampak pada pendapatan ekspor dan aliran modal yang masuk, sehingga alih-alih menguat, mata uang cenderung menghadapi tekanan turun.
Tekanan datang dari yield nominal dan riil yang tinggi yang membentuk biaya marginal untuk ekspor. Kondisi ini menekan margin perdagangan meski carry trade lebih menarik karena suku bunga relatif tinggi di beberapa negara. Kondisi tersebut membuat outlook bagi ZAR dan PEN lebih sulit meskipun ada dukungan dari reformasi kebijakan dan kestabilan fiskal.
Meski demikian, laporan yang dirilis oleh Cetro Trading Insight menyoroti adanya reformasi institusional dan perubahan kebijakan yang bisa mengurangi risiko kinerja yang sangat buruk. Misalnya, mandatori inflasi yang lebih jelas dan ketahanan bank sentral bisa membatasi volatilitas jangka pendek. Dalam konteks Peru, langkah-langkah kebijakan yang lebih ramah bisnis dan sinkron dengan kebijakan AS juga berpeluang membantu persepsi investor meskipun belum pasti.
Faktor kebijakan seperti mandat inflasi dan ketahanan bank sentral menjadi pilar utama yang bisa menahan tekanan eksternal, menurut analisis Cetro Trading Insight. Ketahanan institusional di SA dan Peru dianggap mampu menjaga stabilitas meski tekanan harga komoditas berlanjut. Kendati begitu, dinamika inflasi domestik dan risiko global tetap mempengaruhi keputusan kebijakan bank sentral.
Peru berada di ambang perubahan kebijakan yang lebih pro-bisnis dan sejalan dengan bias kebijakan Amerika Serikat, sehingga potensi perbaikan inklusif bagi aset lokal meningkat. Pelaku pasar menilai langkah-langkah itu sebagai sinyal positif terhadap iklim investasi dan kapasitas ekspor negara. Meski demikian, dampak nyata bagi nilai tukar tergantung seberapa cepat reformasi diimplementasikan dan seberapa efektif integrasi perdagangan internasional.
Faktor institusional seperti independensi bank sentral dan kemampuan pemerintah untuk mengeksekusi reformasi akan membentuk respons mata uang terhadap pergerakan harga komoditas. Laporan menunjukkan potensi manfaat kebijakan meskipun risiko eksternal tetap membayangi. Oleh karena itu, proyeksi carry trade lebih bergantung pada dinamika kebijakan domestik dan dinamika harga logam.
Dampak terhadap carry trade terlihat pada biaya ekspor yang lebih tinggi ketika harga logam melemah, karena pendapatan ekspor yang saat ini menurun mempengaruhi aliran mata uang asing. Penurunan tersebut bisa menekan mata uang negara berkembang yang bergantung pada komoditas ekspor seperti ZAR dan PEN. Namun carry trade tetap menarik bagi investor yang mencari imbal hasil relatif meski risiko volatilitas meningkat.
Meski beberapa faktor mendukung, tidak ada sinyal yang konsisten mengenai performa ZAR maupun PEN yang bergerak lebih kuat secara agresif. Analisis institusional dan reformasi kebijakan menunjukkan potensi perbaikan, tetapi hasilnya masih kabur jika pasar logam memburuk lebih lanjut. Karena itu, arah jangka pendek kedua mata uang masih rentan terhadap kejutan eksternal.
Untuk trader, kunci advokasi adalah pemantauan kebijakan dan reaksi pasar logam terhadap perubahan harga. Jika reformasi kebijakan berlanjut dan logam kembali menguat, prospek carry trade bisa membaik. Namun tanpa sinyal transaksi yang jelas, rekomendasi yang bertujuan membeli atau menjual belum bisa diberikan.