Darma Henwa Tbk (DEWA) Laba Bersih 2025 Melonjak Didukung Akusisi GMR dan Efisiensi Operasional

Darma Henwa Tbk (DEWA) Laba Bersih 2025 Melonjak Didukung Akusisi GMR dan Efisiensi Operasional

trading sekarang

Di bawah sorotan investor, Darma Henwa Tbk menyuguhkan pertumbuhan kinerja yang impresif sepanjang 2025. Cetro Trading Insight melihat dinamika ini sebagai cermin perubahan strategi dan efisiensi operasional perusahaan. Angka-angka yang dirilis menunjukkan sinyal positif bagi para pemegang saham dan calon investor. Laporan keuangan memperlihatkan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun, lonjakannya mengguncang pasar karena besarnya selisih dibanding tahun sebelumnya.

Laba bersih perusahaan meningkat sekitar 7.690 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp55,2 miliar. Sementara itu, pendapatan tumbuh 5,97 persen menjadi Rp6,39 triliun dari Rp6,03 triliun. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp5,43 triliun dari Rp5,59 triliun pada periode sebelumnya, sehingga laba bruto melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp962 miliar dengan margin laba bruto 15,1 persen. Kenaikan laba ini mencerminkan kombinasi antara peningkatan efisiensi biaya dan kontribusi dari transaksi non-operasional, meningkatkan kebersihan laporan keuangan.

Dari sisi neraca, total aset meningkat signifikan menjadi Rp16,73 triliun per 31 Desember 2025, dari sebelumnya Rp8,5 triliun. Liabilitas tercatat Rp8,1 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp8,5 triliun. Kenaikan aset tersebut mencerminkan kapasitas perusahaan untuk mendanai proyek-proyek baru dan memperkuat posisi finansial menjelang ekspansi jangka menengah.

Riset Stockbit menunjukkan lonjakan laba bersih sebagian besar ditopang oleh pengakuan negative goodwill dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR) senilai Rp4,5 triliun. Faktor ini menjadi pendorong utama pertumbuhan laba meski terdapat komponen non-operasional yang mempengaruhi arus kas. Cetro menilai bahwa keuntungan satu kali ini perlu dilihat bersama dengan upaya perbaikan berkelanjutan pada efisiensi operasional.

Di samping itu, pendapatan non-operasional turut menambah daya tarik laporan keuangan. Pengalaman perusahaan menunjukkan bahwa penghapusan piutang dan persediaan, hilangnya kendali atas entitas anak, serta penjualan aset tetap berkontribusi total Rp724 miliar. Meski demikian, keuntungan inti perusahaan juga tumbuh, menepis kekhawatiran atas potensi volatilitas jangka pendek.

Core profit naik 59 persen menjadi Rp910 miliar, menandai perbaikan fundamental yang nyata di lini bisnis utama. Adapun prospek proyek Bengalon milik KPC akan dipercepat dengan rencana pengambilalihan pekerjaan secara in-house mulai April 2026, sebagai bagian dari strategi peningkatan efisiensi dan kontrol biaya. Langkah ini diharapkan memperbaiki margin operasional serta aliran kas dari proyek-proyek kunci di masa depan.

Prospek perusahaan tetap positif berkat potensi tambahan volume kontrak sekitar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik KPC. Pipeline proyek ini dipandang sebagai dorongan pendapatan berkelanjutan dan memperluas jejak DEWA di sektor tambang dalam negeri. Cetro percaya bahwa kemitraan strategis dan kelola portofolio yang lebih luas akan menambah stabilitas hasil keuangan.

Rencana alih fungsi pekerjaan secara in-house Bengalon diharapkan meningkatkan efisiensi dan kendali operasional. Efisiensi tersebut berpotensi menurunkan biaya dan mempercepat penyelesaian tugas, sehingga arus kas menjadi lebih terukur. Perusahaan juga menyoroti investasi pada teknologi manajemen proyek sebagai fondasi untuk meningkatkan produktivitas di masa mendatang.

Ketersediaan kontrak baru serta kemampuan perusahaan memanfaatkan peluang industri menjadi katalis positif bagi para pemegang saham. Cetro menilai bahwa kombinasi pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, dan strategi alih daya dapat mempertahankan posisi DEWA di pasar kontraktor tambang Indonesia. Secara keseluruhan, kinerja 2025 memberi warna baru pada lintasan perusahaan, meski volatilitas pasar masih perlu diawasi.

broker terbaik indonesia