
BNY strategists John Velis dan David Tam menilai data ekonomi AS tetap menunjukkan daya tahan, meski ada risiko inflasi yang lebih tinggi. Hal ini membuat kasus untuk memotong suku bunga Fed pada tahun ini menjadi lebih sulit. Mereka tetap memegang skenario dasar dua pemotongan di Q4 2026, syaratnya pembukaan Selat Hormuz dan pelemahan tenaga kerja yang keduanya diperkirakan bisa terjadi menjelang akhir Q3.
Dalam dua minggu terakhir, data makro AS menunjukkan ekonomi tidak lagi berada di bawah tekanan tajam akibat dampak konflik Iran. Data pasar tenaga kerja juga dipandang cukup kuat, menambah tantangan bagi perubahan kebijakan. Mengingat potensi inflasi yang tetap membara, peluang pemotongan pada tahun ini tampak semakin sulit untuk dibenarkan.
Meskipun demikian, Velis dan Tam tetap melihat jalur dua pemotongan bisa terealisasi jika selat Hormuz dibuka dan pasar tenaga kerja melemah menjelang akhir kuartal ketiga 2026. Mereka menilai pembukaan itu akan menurunkan harga minyak, yang pada gilirannya memberi ruang bagi Fed untuk fokus pada pasar kerja sebagai bagian dari mandat dobelnya. Namun, prospek pembukaan Hormuz dalam jangka pendek tetap terlihat tidak pasti, sehingga jalur kebijakan tetap menjaga risiko yang tinggi.
Rambu kebijakan Fed tetap bergantung pada keseimbangan antara data ekonomi dan tekanan inflasi. Velis dan Tam menekankan bahwa skenario dua potongan hanya valid jika selat Hormuz dibuka, diikuti pelemahan pasar tenaga kerja. Secara umum, jalur kebijakan tetap menimbang dampak turunnya harga minyak terhadap inflasi dan bagaimana pasar kerja berkembang.
Data pekerjaan April menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya konsisten. Survei payrolls (establishment) menunjukkan penambahan 115 ribu pekerjaan, sementara survei rumah tangga melaporkan peningkatan pengangguran sebesar 134 ribu dan penurunan pekerjaan sebanyak 226 ribu. Kombinasi angka ini menambah kebuntuan di konteks arah kebijakan dan menambah pentingnya data inflasi yang akan datang.
Selain itu, perbedaan pendapat pada pernyataan FOMC April lebih terkait bahasa kebijakan daripada arah kebijakan itu sendiri. Dissent menyoroti adanya keinginan untuk mengakui risiko dua arah terhadap suku bunga di masa depan. Meski begitu, ini tidak mengubah kerangka kebijakan secara keseluruhan, namun menggarisbawahi pentingnya sinyal kebijakan yang lebih eksplisit.
Bagi pelaku pasar, ketidakpastian mengenai arah pemotongan Fed meningkatkan volatilitas dolar dan pergerakan aset yang sensitif terhadap kebijakan moneter. Investor disarankan memantau inflasi seperti CPI dan PPI serta laporan tenaga kerja, sambil mengikuti dinamika minyak jika Hormuz kembali terbuka. Faktor geopolitik yang tak terduga bisa menggeser ekspektasi pasar secara signifikan.
Dalam konteks tersebut, strategi portofolio perlu mencermati risiko pertumbuhan ekonomi serta kepastian kebijakan. Diversifikasi lintas kelas aset dan penggunaan hedging menjadi langkah defensif yang rasional. Investor juga sebaiknya menyiapkan skenario alternatif untuk potensi perubahan siklus suku bunga.
Tips praktis meliputi peninjauan ulang alokasi aset untuk menjaga keseimbangan risiko, fokus pada aset defensif, dan kesiapan melakukan penyesuaian cepat jika rilis data inflasi menunjukkan tekanan naik. Juga penting untuk menjaga likuiditas yang cukup agar bisa memanfaatkan peluang jika volatilitas memperluas. Tetap waspada terhadap kejutan geopolitik yang bisa mengguncang harga energi dan kepercayaan pasar.