GELOMBANG DATA EKONOMI GLOBAL MENGGUNCANG SENTIMEN PASAR SEAKAN GEMPA YANG MENYENTAK HATI INVESTOR. Dalam beberapa hari ke depan, rilis utama ekonomi global berpotensi mengubah landasan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter. Cetro Trading Insight memantau bagaimana angka-angka tersebut memicu reaksi di berbagai kelas aset dan strategi portofolio.
Di AS, laporan ketenagakerjaan Februari, bersama dengan PMI Manufaktur ISM dan data penjualan ritel, akan menilai kekuatan permintaan domestik. Respons pasar terhadap data ini bisa mengubah arah pergerakan suku bunga The Fed dan volatilitas jangka pendek di pasar valuta asing serta saham. Pembaca diajak melihat bagaimana sinyal pertumbuhan teranyar mempengaruhi keputusan investasi jangka menengah.
Di kancah global, PMI Manufaktur di China, Kanada, Korea Selatan, dan negara ASEAN termasuk Indonesia turut membentuk poros perekonomian. Gerak harga minyak serta arus perdagangan dunia menjadi barometer utama, mengingat energi menjadi pendorong utama inflasi. Ketidakpastian geopolitik menambah dinamika prospek pasar di bulan mendatang.
Konflik di kawasan Timur Tengah menambah ketidakpastian pasokan energi dan meningkatkan dinamika inflasi global. Pergerakan harga komoditas mentah, khususnya minyak, cenderung memicu volatilitas di pasar keuangan dan mempengaruhi persepsi risiko para investor. Pelaku pasar menimbang potensi gangguan rantai pasok dengan saksama.
Eskalasi terkini berpusat pada kekhawatiran perebutan kekuasaan di Iran dan respons serangan balik yang mempengaruhi pelayaran di Selat Hormuz. Aksi militer dan balasan regional berpotensi mengubah arus perdagangan energi serta memperbesar risiko bagi kebijakan fiskal dan moneter negara konsumen. Di tengah ketidakpastian, pasar tetap sensitif terhadap pengumuman produsen utama dan langkah koalisi internasional.
Implikasi bagi obligasi dan instrumen safe-haven turut terasa. Ketidakpastian geopolitik menambah premi risiko, sementara volatilitas minyak memacu alokasi modal ke aset defensif. Secara umum, skenario jangka menengah menimbang dinamika inflasi global dan lintasan suku bunga dunia.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik akan merilis rangkaian data ekonomi terkait ekspor impor, inflasi, dan indikator strategis lainnya. Data Januari 2026 menambah nuansa bagi kebijakan fiskal dan moneter serta membantu menilai arah pertumbuhan domestik. Pelaku pasar menelaah respons kebijakan hingga kemungkinan perubahan suku bunga bank sentral.
Inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan, sedikit di atas target BI 2,5 plus minus satu persen. Lonjakan ini dipicu base effect dari diskon tarif listrik pada Januari hingga Februari tahun lalu, sehingga angka yoy lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, deflasi bulanan 0,15 persen mencerminkan normalisasi harga pangan dan biaya transportasi.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 berada di 54,02, turun 0,10 poin dari Januari namun naik 0,87 poin dibandingkan Februari 2025. Level ini menjadi salah satu yang tertinggi sejak IKI diluncurkan pada November 2022, sehingga menambah pondasi optimisme terkait siklus manufaktur domestik.