Daya beli masyarakat menjelang Lebaran 2026 diperkirakan membaik dibandingkan periode serupa tahun lalu, memberikan sinyal positif bagi kinerja ritel. Laporan riset Indo Premier Sekuritas yang dirilis pada Maret 2026 menunjukkan beberapa peritel mulai menunjukkan perbaikan kinerja seiring meningkatnya aktivitas belanja. Dalam pandangan tim redaksi Cetro Trading Insight, pembacaan ini juga mencerminkan adaptasi pola belanja konsumen yang semakin sehat menjelang libur nasional.
Indo Premier mencatat bahwa penjualan indikatif ACES pada Februari 2026 tumbuh high single digit secara tahunan, dengan SSSG sekitar mid-single digit. Pertumbuhan ini didorong peningkatan jumlah pengunjung toko serta nilai belanja per transaksi yang lebih besar. Analisis kami menegaskan bahwa momentum tersebut menandakan dinamika positif pada sektor ritel yang dapat berlanjut jikalau daya beli tetap terjaga hingga kuartal berikutnya.
Indo Premier juga memperkirakan SSSG ACES kuartal I-2026 pulih ke kisaran mid-single digit secara tahunan, lebih baik dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan tersebut juga berimplikasi pada AMRT, meski basis pembanding pada kuartal I-2025 cukup tinggi. Secara keseluruhan, tren ini menunjukkan fundamental ritel Indonesia sedang pulih seiring belanja menjelang Lebaran.
Kenaikan harga bahan bakar minyak BBM yang berkepanjangan berpotensi menjadi risiko utama bagi kinerja penjualan ritel ke depan. Analis menggarisbawahi bahwa tekanan biaya energi dapat menekan daya beli kelas menengah ke atas, yang menjadi frontliner segmen yang disasar peritel diskresioner dalam riset Indo Premier. Dalam konteks ini, volatilitas harga BBM berpotensi memendam laju pertumbuhan penjualan secara menyeluruh.
Dalam telaah historis, periode IV-2022 hingga I-2023 menunjukkan bahwa kenaikan BBM non-subsidi Pertamax pernah menekan laju pertumbuhan SSSG pada ACES dan MAPI. Meski dampaknya tidak selalu luas, faktor tersebut tetap menjadi risiko yang perlu dicermati kalangan investor. Oleh karena itu, dinamika harga BBM menjadi variabel utama yang mempengaruhi proyeksi laba ritel sepanjang 2026.
Selain itu, AMRT juga menghadapi risiko jika pemerintah menaikkan harga BBM subsidi Pertalite. Meski sebelumnya dampaknya relatif terbatas karena kemampuan beberapa barang pokok menutupi tekanan harga, potensi perubahan tersebut tetap menjadi faktor penentu bagi rantai pasok dan margin ritel. Perlu dicatat bahwa beberapa perusahaan staples yang ditemui Indo Premier menyatakan belum ada rencana menaikkan harga dalam waktu dekat.
Secara valuasi, sektor ritel saat ini diperdagangkan pada forward price to earnings (PE) 12 bulan sekitar 11,6 kali, berada sekitar 2 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Level ini menunjukkan bahwa penurunan harga saham relatif terbatas meski ada risiko makro yang membayanginya. Analisis pasar menandaskan bahwa evaluasi harga saat ini cukup konservatif di tengah prospek pemulihan konsumsi.
Indo Premier tetap memberikan rekomendasi Neutral untuk sektor ritel, mengingat risiko harga minyak yang tinggi masih membayangi pertumbuhan penjualan. Dalam pemeringkatan saham pilihan, MAPI ditempatkan sebagai pilihan utama, diikuti ACES dan AMRT, menandakan fokus pada pemulihan permintaan ritel dengan potensi laba yang lebih tajam jika BBM stabil dan SSSG bertahan kuat.
Risk-reward bagi investor masih menunjukkan keseimbangan; jika SSSG tumbuh lebih kuat dari ekspektasi dengan harga BBM terkontrol, potensi upside bagi saham ritel bisa terbangun. Namun, jika tekanan BBM berlanjut, batasan di sisi margin dan pertumbuhan laba bisa membatasi upside. Investor disarankan untuk memonitor pergerakan BBM serta dinamika SSSG pada ACES, AMRT, dan MAPI sebagai kompas utama keputusan investasi tahun 2026.