Danske Research Team menginformasikan bahwa defisit perdagangan barang AS pada Januari menyempit menjadi USD 81,8 miliar karena ekspor membaik. Namun angka tersebut tetap berada di atas level terendah musim gugur lalu dan menunjukkan bahwa ketidakseimbangan perdagangan tetap relevan. Perbaikan ini mengindikasikan bahwa faktor permintaan global sedang membaik, meskipun tantangan berlanjut.
Para analis menilai bahwa penyempitan ini bersifat sementara. Mereka memperkirakan defisit akan melebar lagi sepanjang tahun ini seiring pemulihan volume impor dan dinamika perekonomian domestik. Kondisi ini menimbulkan perhatian terhadap bagaimana kebijakan moneter bisa bereaksi.
Menurut liputan ini dari Cetro Trading Insight, pasar akan menanti data utama seperti PCE dan laporan JOLTs sebagai ukuran awal persepsi inflasi di tengah harga energi tinggi dan ketegangan geopolitik. PCE yang lebih tinggi atau lebih rendah dapat memicu respons pada suku bunga dan mata uang. Sementara itu, JOLTs akan menunjukkan kekuatan pasar kerja yang mendasari daya beli.
Fokus utama hari ini adalah rilisan inflasi yang diukur melalui PCE, ukuran inflasi favorit Federal Reserve. Data Januari PCE akan menilai apakah tekanan harga masih berlapis-lapis atau mulai mereda. Indikator ini penting karena akan membentuk ekspektasi kebijakan moneter di masa mendatang.
Selain itu, survei sentimen konsumen University of Michigan untuk Maret akan menjadi petunjuk arah persepsi inflasi di kalangan rumah tangga. Perkembangan indikator ini bisa memengaruhi ekspektasi inflasi dan perilaku belanja. Pasar akan merespons jika perubahan persepsi inflasi terlihat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Rilis lain seperti laporan JOLTs juga dinantikan untuk memahami dinamika pasar tenaga kerja. Mengingat harga energi dan ketegangan geopolitik, investor sebaiknya menilai risiko dan volatilitas aset berisiko. Ketika data tenaga kerja menunjukkan kekuatan atau kelemahan, respons pasar bisa terjadi pada imbal hasil, kurs, dan likuiditas.