Denera IPO 2028: Investasi Rp87 Triliun untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (WtE) di Indonesia

Denera IPO 2028: Investasi Rp87 Triliun untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (WtE) di Indonesia

trading sekarang

Di tengah tekanan krisis sampah dan kebutuhan listrik nasional, langkah ini dipandang sebagai momen krusial dalam lanskap infrastruktur Indonesia. Cetro Trading Insight membedah bagaimana Badan Pengelola Investasi Danantara berniat membawa PT Daya Energi Bersih Nusantara, atau Denera, menuju Initial Public Offering pada tahun 2028. Upaya ini menandai perpindahan strategis dari model pembiayaan konvensional menuju skema perusahaan terbuka yang lebih terstruktur. Dalam konteks ini, Denera didorong untuk menjadi operator WtE terdepan di kawasan, sekaligus menjadi katalis bagi investasi infrastruktur hijau di tanah air.

Secara rinci, ekonomi proyek ini menggariskan total kebutuhan investasi yang besar. Perkiraan total investasi hingga tahap operasional awal mencapai sekitar 5 miliar dolar Amerika, setara dengan sekitar 87 triliun rupiah pada asumsi kurs saat ini. Angka tersebut mencerminkan skala fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang akan dibangun di berbagai kota besar di Indonesia, dengan potensi dampak signifikan terhadap penanganan sampah dan pasokan listrik.

Rencana ini juga menegaskan arah masa depan perusahaan. Setelah menunjukkan arus kas yang layak, rencana konsolidasi dan transformasi menjadi perusahaan Tbk di pasar modal domestik menjadi langkah strategis. Konflik kepentingan dan kerjasama lintas negara diharapkan menjadi pilar utama, karena Denera menargetkan kemitraan dengan investor asing maupun lokal untuk mempercepat realisasi proyek secara nasional.

Denera dibentuk pada 1 April 2026 oleh Danantara Investment Management sebagai entitas pengelola program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik. Peran Denera di sini adalah menjadi pemegang saham pengendali di pabrik PSEL yang dibangun investor, dengan fokus pada pengelolaan operasional dan kepemilikan saham di bawah payung DIM. Struktur ini dirancang untuk memfasilitasi konsolidasi berbagai proyek WtE yang akan dibangun di berbagai wilayah, sehingga standar operasional dan aliran investasi bisa dijaga konsisten.

Setiap proyek WtE diproyeksikan akan membentuk konsorsium di mana investor memegang mayoritas saham hingga sekitar 70 persen, sementara Denera menguasai sekitar 30 persen. Dengan perkiraan kebutuhan investasi per proyek antara Rp2,5 hingga Rp2,8 triliun, skema pembiayaan ini mencerminkan skala fasilitas pengolahan sampah yang akan dioperasikan. Struktur kepemilikan semacam ini dirancang untuk menjaga insentif investasi sambil memastikan kontrol operasional tetap berada pada Denera sebagai badan pengelola.

Dalam skema kerja, Denera diharapkan tidak hanya menjadi pemegang saham tetapi juga bertanggung jawab atas operasional dan pengelolaan seluruh PSEL di bawah payung Danantara Investment Management. Dengan demikian, perusahaan akan menjadi executor utama untuk menjalankan program PSEL secara nasional, termasuk memimpin negosiasi kemitraan, tata kelola, serta pemantauan kinerja proyek-proyek WtE yang sedang dan akan berjalan.

banner footer