Para analis Societe Generale memprakirakan bahwa narasi disinflasi akan mendominasi pada 2026. Mereka menyoroti pertumbuhan upah yang moderat dan dinamika komoditas yang mendukung tren tersebut. Pandangan ini menegaskan bahwa tekanan inflasi inti cenderung turun secara bertahap seiring berjalannya waktu.
Mereka memperkirakan inflasi utama rata-rata sekitar 1,7% pada 2026, turun dari 2,1% pada 2025. Penurunan ini dipicu oleh efek basis yang positif serta penyesuaian harga yang cenderung lebih halus. Selain itu, faktor seperti perbaikan keseimbangan harga energi dan dinamika pasar komoditas global turut menahan laju inflasi inti.
Para analis menekankan bahwa risiko dua sisi bisa mengganggu jalur disinflasi. Risiko tersebut mencakup potensi kelebihan pasokan dari China dan volatilitas pasar energi yang bisa membatasi kemajuan penurunan inflasi. Opsi kejutan fiskal di beberapa negara besar dan fluktuasi nilai tukar mempertegas ketidakpastian jalur tersebut.
| Variabel | Proyeksi |
|---|---|
| Inflasi utama 2026 | sekitar 1,7% |
| Inflasi 2025 | sekitar 2,1% |
Faktor-faktor utama yang memengaruhi inflasi meliputi dinamika upah, biaya energi, serta perubahan pasokan global. Narasi disinflasi juga dipengaruhi oleh adaptasi harga yang berjalan lambat pada beberapa sektor, sehingga volatilitas bulanan tetap bisa terjadi. Dalam konteks ini, pasar menilai risiko sisi dua arah sebagai penyangga utama terhadap skenario baseline.
Selain itu, risiko seperti oversupply dari China dan tekanan pada pasar energi dapat mempersempit ruang bagi penurunan inflasi yang berkelanjutan. Pergerakan nilai tukar juga menjadi pendorong utama karena dampaknya terhadap biaya impor dan harga domestik. Kebijakan fiskal di negara mitra utama turut menambah dimensi kebijakan terhadap lintasan inflasi inti.
Dengan situasi ini, evaluasi risiko perlu dilakukan secara berkala dan terperinci. Investor disarankan membedakan antara volatilitas jangka pendek dan tren jangka panjang, serta menilai bagaimana faktor-faktor tersebut bisa mengubah ekspektasi. Secara umum, narasi disinflasi tetap relevan meskipun adanya risiko sorotan dari faktor eksternal.
Jika narasi disinflasi bertahan, dampaknya terhadap pasar keuangan bisa bersifat netral hingga positif bagi aset berisiko. Inflasi yang menurun memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga kebijakan akomodatif sambil menyeimbangkan pertumbuhan. Namun, volatilitas terkait faktor geopolitik dan dinamika energi berpotensi menciptakan peluang bagi trader yang memanfaatkan volatilitas.
Untuk investor, fokus pada kualitas aset sangat penting ketika risiko inflasi masih ada di pertengahan siklus. Saham yang sensitif terhadap dinamika ekonomi, obligasi dengan durasi moderat, serta komoditas terkait energi bisa dipertimbangkan secara selektif. Diversifikasi lintas aset dan horizon investasi juga penting untuk mengelola volatilitas yang mungkin timbul.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa reading data bulanan sering dipengaruhi oleh faktor musiman dan baseline, sehingga interpretasi terhadap angka Januari harus dilakukan dalam konteks tren tahunan. Pelaku pasar disarankan menilai kedalaman dataset dan kebijakan fiskal yang sedang berlangsung untuk mengindra arah semesta inflasi. Secara keseluruhan, pendekatan berbasis risiko dengan fokus pada kualitas portofolio diharapkan membantu mengoptimalkan peluang di tengah ketidakpastian.