
Pasar tetap berhati-hati karena eskalasi ketegangan kawasan terkait Iran dan Selat Hormuz. DXY turun tipis menuju sekitar 101.13, memberi ruang bagi beberapa pasangan mata uang utama untuk bergerak lebih stabil. Risiko geopolitik juga mendorong minyak dan logam mulia mengalami pergerakan yang lebih responsif terhadap berita tentang pasokan. Menyusun gambaran ini, Cetro Trading Insight menekankan bahwa dinamika pasar cenderung dipicu oleh berita geopolitik dan data ekonomi.
Sentimen risiko tetap rapuh meski beberapa berita menambah volatilitas. Komentar otoritas AS mengisyaratkan kemungkinan tindakan jika serangan berlanjut, sehingga pasar menimbang risiko konflik yang lebih luas. Karena itu, logam mulia dan minyak mendapat dukungan sebagai aset pelindung nilai.
Dalam fokus data ekonomi AS, klaim pengangguran awal diperkirakan naik menjadi 212 ribu dari 208 ribu. Data tersebut meskipun tidak mengubah tren secara dramatis, tetap dinilai sebagai indikator kesehatan tenaga kerja. Investor menilai bagaimana hasil rilisan data akan mempengaruhi ekspektasi kebijakan bank sentral di bulan ini.
Pasar tetap menantikan keputusan kebijakan ECB, dengan ekspektasi bahwa Main Refinancing Rate tetap di 2.40% dan Deposit Facility di 2.25%. EURUSD menguat menuju sekitar 1.1410, memberikan sedikit tekanan pada dolar AS. Konferensi pers Presiden Lagarde menjadi fokus utama untuk menilai arah kebijakan ke depan.
Rilis pernyataan kebijakan ECB dapat memberikan sinyal kapan normalisasi kebijakan akan terjadi. Meski demikian, potensi perubahan kebijakan masih dianggap relatif bertahap, menjaga volatilitas di pasangan utama. Perkembangan ini juga menjelaskan dinamika pergerakan USD/JPY yang tetap berada di level tinggi.
GBP/USD dilaporkan sedikit melemah, berdekatan dengan level 1.3380, karena pasar menunggu konfirmasi data domestik. Harapan perbaikan kepercayaan konsumen di Inggris tercermin dalam proyeksi peningkatan menjadi -21 di Juli dari -23. Namun, katalis domestik yang kuat masih kurang untuk mendorong langkah lebih jauh.
WTI Oil melesat melewati 86.40 dolar per barel, mencerminkan kekhawatiran atas keamanan pengiriman energi. Ketegangan geopolitik dan kebijakan OPEC juga menopang harga minyak meski volatilitas meningkat. Bersamaan itu, logam mulia mencatat pergerakan masuk ke zona yang lebih tinggi karena permintaan safe-haven.
USD/JPY tetap mendekati 163.15, menandakan Jepang menghadapi beban impor energi yang berat. Sinyal inflasi bulanan Jepang nanti bisa mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kelanjutan kebijakan Bank of Japan. Di sisi lain, AUD/USD bergerak mendatar menuju 0.6995 karena pelaku pasar menjaga posisi sebelum data lapangan kerja Juni.
Beberapa rilis data penting seperti belanja ritel Kanada, klaim pengangguran AS, dan kepercayaan konsumen zona euro akan menambah arah pasar. Investor akan menimbang campuran data ekonomi dan risiko geopolitik sebelum menentukan posisi. Sesi berikutnya diperkirakan masih dipengaruhi dinamika energi dan pergerakan mata uang utama.