Dolar AS menunjukkan pelemahan secara luas setelah kejutan hawkish dari European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) yang menyalip komentar terbaru dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Perubahan ekspektasi suku bunga di kedua bank sentral tersebut meningkatkan tekanan pada dolar, meski Powell mencoba menyampaikan nada yang lebih hati-hati dalam konferensi persnya. Implikasi pasar terlihat pada pergeseran likuiditas dan aliran modal.
Harga minyak tetap berada pada level tinggi karena risiko geopolitik, terutama perang terkait, menjadikan minyak sebagai komponen utama yang memengaruhi pergerakan mata uang secara tidak langsung. Para pelaku pasar menilai bahwa meskipun faktor minyak berperan sebagai driver, efek kebijakan suku bunga tetap lebih bersifat sekunder dan bergantung pada dinamika geopolitik.
Para analis mencatat bahwa arahan kebijakan hingga kini masih belum cukup untuk mengubah peran minyak sebagai pendorong utama pasar. Ekspektasi bias pada tingkat bunga cenderung fluktuatif dan sangat bergantung pada bagaimana perkembangan di Selat Hormuz berlanjut.
Dalam beberapa hari ke depan, arah dolar bisa sangat dipengaruhi kemajuan deeskalasi militer dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika berita militer menunjukkan kemajuan menuju de-eskalasi, dolar bisa mengalami tekanan ke bawah lebih lanjut, namun kejelasan mengenai pembukaan Hormuz diperlukan untuk mencegah kebangkitan kembali tekanan di tahap berikutnya.
Fokus pasar juga akan tetap tertuju pada minyak dan data kebijakan moneter, meskipun risiko geopolitik menambah volatilitas. Pergerakan harga minyak diperkirakan tetap menjadi penggerak utama, sementara sinyal kebijakan moneter dari ECB dan BoE memberi kerangka arah jangka pendek.
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight. Untuk trader, pendekatan yang berhati-hati dengan manajemen risiko sangat dianjurkan. Hindari over-leverage dan sesuaikan target risiko-reward.