Dolar Menguat di Tengah Krisis Hormuz, Minyak Menjaga Arah Pasar Global

Dolar Menguat di Tengah Krisis Hormuz, Minyak Menjaga Arah Pasar Global

trading sekarang

Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca setia. Dolar AS terpantau mendekati level 99.80 pada indeks DXY, menandakan posisi kuatnya mata uang utama di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda. Pergerakan ini memberikan arah bagi pelaku pasar menyongsong data ekonomi utama minggu ini.

Teheran menolak gencatan senjata sementara dan memutus jalur komunikasi dengan Washington, sehingga peluang perundingan damai menjadi lebih kompleks. Kondisi ini menjaga risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi dan mendukung pergerakan dolar secara tidak langsung.

Harga minyak, khususnya minyak mentah, tetap mencerminkan disiplin pasar terhadap potensi gangguan pasokan di Hormuz. Sementara itu, data ekonomi Amerika seperti pesanan barang modal inti menambah dinamika bagi kebijakan moneter menjelang rilis FOMC dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi PCE. Pasar terus memperhatikan arah kebijakan dan risiko geopolitik yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut.

EUR/USD melaju mendekati 1.1580, meskipun dolar AS tetap kuat di pasar. Ada ekspektasi bahwa ECB perlu menilai kembali kebijakan jika tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak berlanjut, sementara pejabat ECB menandai kesiapan untuk bertindak.

GBP/USD naik menuju 1.3270 namun tetap terbebani kekhawatiran volatilitas fiskal Inggris dan beban impor energi. Pasar menilai bahwa masalah energi dan dinamika fiskal dapat membebani Pound meskipun terdapat sentiment pemulihan terhadap dolar AS.

USD/JPY terpantau mendekati 159.80, dengan yen masih berada pada area yang sebelumnya menjadi titik intervensi. Pejabat Jepang menegaskan kontak yang erat dengan mitra G7 terkait volatilitas pasar, sementara imbal hasil 10-tahun JGB mencapai level tertinggi dalam 27 tahun, menambah tekanan pada kebijakan moneter dan valuasi mata uang.

AUD/USD berada di sekitar 0.6960, naik meskipun dinamika harga energi menekan mata uang berbasis risiko. Nada hawkish dari bank sentral Australia masih membayangi pasar, menambah kompleksitas pergerakan Australian dollar di tengah kekhawatiran global.

WTI sempat naik ke dekat 117 dollar per barel sebelum akhirnya turun ke sekitar 113.40. Pasokan minyak global tetap sangat ketat karena gangguan produksi di Hormuz, dengan beberapa grade fisik crude bahkan terlihat melonjak mendekati level puncak, menambah volatilitas di pasar energi.

Emas menunjukkan bias bullish ringan di sekitar 4.680 dolar per troy ounce, didorong oleh ketidakpastian geopolitik meski dolar tetap kuat. Selain itu, kebijakan pembelian emas oleh bank sentral China yang berlanjut selama 17 bulan turut mendukung logam mulia. Pasar juga menantikan data penting seperti rilis PCE, GDP, dan indeks harga inflasi yang dapat memberi arahan baru bagi pasar keuangan.

broker terbaik indonesia