
Menurut analisis Cetro Trading Insight, data Amerika Serikat yang lebih kuat, disertai komentar hawkish dari bank sentral, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik dan menguatkan indeks dolar. Kondisi ini mencerminkan perubahan ekspektasi kebijakan dan berpotensi mengubah pola aliran modal di pasar keuangan global. Di sisi lain, pergerakan pasar tetap dipicu oleh faktor geopolitik yang menambah volatilitas. Secara umum, kombinasi data kuat dan sikap kebijakan yang tegas menambah risiko bagi aset berisiko dalam jangka pendek.
Rilis inflasi dan klaim pekerjaan yang lebih tinggi dari estimasi menambah legibilitas bagi pelaku pasar terhadap jalur kebijakan. Survei inflasi satu tahun NY Fed menunjukkan peningkatan ekspektasi hingga 3,64% pada April, tertinggi sejak September 2023, sehingga mendorong spekulasi mengenai respons kebijakan yang lebih hawkish. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan berada di sekitar 200 ribu untuk minggu yang berakhir 2 Mei, yang menambah tekanan positif terhadap arah kebijakan moneter. Data ini memperkuat narasi bahwa langkah pengetatan bisa berlanjut lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
Berita publik dari para pejabat Fed juga memperkuat sentimen hawkish. Presiden Boston Fed, Collins, sependapat dengan dissenters yang tidak menginginkan bias pelonggaran disertakan dalam pernyataan kebijakan. Para dissenters Hammack dan Kashkari menegaskan bahwa suku bunga bisa berada pada posisi tahan lama atau bahkan naik jika risiko geopolitik, seperti gangguan di Selat Hormus, terus berlanjut. Semua faktor ini mendorong pasar untuk melihat jalur kebijakan lebih tegas dan risiko pergerakan pasar obligasi yang lebih volatil secara umum.
Momentum hawkish ini memicu pergeseran harga aset terkait kebijakan moneter. Pasar menyerap sinyal bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga lebih besar daripada sebelumnya, meskipun beberapa pejabat Fed masih menekankan kemungkinan jeda dalam beberapa pertemuan. Proyeksi harga pasar menunjukkan peningkatan probabilitas kenaikan suku bunga di masa mendatang, yang mempertegas ekspektasi bahwa kebijakan bisa tetap ketat lebih lama dari perkiraan awal. Implikasi ini terasa di seluruh kurva imbal hasil, tidak hanya pada tenor pendek tetapi juga pada tenor menengah dan panjang.
Dalam konteks kebijakan, narasi rata-rata bahwa