
USD diperdagangkan mendekati level 101.00 pada hari Senin, mendekati tertinggi 13 bulan di 101.13 yang dicapai pada Jumat. Investor menimbang harga minyak yang lebih rendah, harapan perdamaian antara AS dan Iran, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve bisa tetap mengambil kebijakan restriktif lebih lama. Pergerakan ini mencerminkan campuran faktor fundamental yang membentuk arah nilai tukar menjelang rilisan data utama.
Pasar menantikan Indeks Harga Perkiraan Personal (PCE) AS pada hari Kamis, ukuran inflasi yang menjadi favorit Fed, yang bisa mempengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan berikutnya. Data PCE nantinya dianggap sebagai indikator penting karena bisa mengarahkan proyeksi kebijakan moneter. Sinyal dari angka tersebut bisa memperkuat arah dolar jika inflasi tetap membandel.
Secara umum, dinamika ini menambah gaya defensif di pasar mata uang global. Ketidakpastian seputar kebijakan moneter dan jalur pertumbuhan ekonomi menjadi faktor kunci yang dipantau trader. Para pelaku pasar menimbang risiko geopolitik dan dampaknya terhadap jalur kebijakan bank sentral ke depan.
EUR/USD turun mendekati 1.1430 karena euro gagal bertahan setelah laporan kepercayaan konsumen yang lemah. Penurunan ini menyoroti tantangan fundamental bagi mata uang tunggal itu setelah data domestik lemah dan gambaran ekonomi zona euro yang masih rapuh. Pasar juga menilai dampak dari kebijakan ECB terhadap jalur suku bunga di masa depan.
USD/JPY berada di sekitar level intervensi sekitar 161.60, setelah hampir menyentuh 162.00 sebelumnya, menunjukkan yen tetap tertekan oleh keunggulan yields di pasar global. Investor menantikan indikator Jepang menjelang akhir pekan untuk petunjuk arah lebih lanjut. Kepemilikan risk-on atau risk-off bisa menentukan pergerakan pasangan ini dalam beberapa sesi berikutnya.
AUD/USD tertekan di sekitar 0.7000 karena sentimen risiko tetap rapuh. Pelaku pasar menantikan data inflasi Australia pada Rabu dan angka pekerjaan pada Kamis yang bisa memicu pergeseran ekspektasi terhadap kebijakan RBA. Kondisi saat ini menambah fokus pada jalur kebijakan yang lebih hati-hati dari bank sentral Australia.
WTI minyak mentah turun mendekati $74.20 per barel karena optimisme terkait pembicaraan perdamaian AS-Iran mengurangi premi risiko geopolitik. Penurunan ini menandai kelanjutan tren harga energi yang lebih rendah dan pengaruhnya terhadap biaya produksi bagi pelaku ekonomi. Pasar juga memantau bagaimana perubahan permintaan dapat mempengaruhi volatilitas harga minyak ke depan.
Harga minyak turun lebih dari 3% karena pembicaraan di Swiss menunjukkan potensi kesepakatan yang bisa menghadirkan kembali pasokan Iran ke pasar. Hambatan geopolitik berkurang, risiko pasokan global lebih rendah, dan hal ini menambah tekanan pada harga energi. Investor juga mempertimbangkan bagaimana perubahan pasokan energi mempengaruhi inflasi global dan permintaan barang konsumen.
Logam mulia berwarna kuning berhasil rebound dari level terendah satu minggu karena turunnya harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi, meskipun ketidakpastian kebijakan AS dan risiko geopolitik menjaga minat terhadap aset lindung nilai. Harga spot menunjukkan peningkatan sekitar 0,8% ke level sekitar 4.190 dolar per ons, menandakan minat investor terhadap perlindungan nilai. Investor tetap memantau dinamika kebijakan moneter AS dan langkah-langkah geopolitik yang bisa mempengaruhi permintaan logam mulia.