
Dow Jones Industrial Average diperdagangkan mendekati 52,5 ribu poin pada hari Jumat, naik sekitar 230 poin dan sekitar 1,6 persen dari rekor yang dicetak pada awal Juli. Pergerakan intraday hampir mencapai 600 poin, mulai dari area 52,6 ribu hingga menyentuh sedikit di bawah 52 ribu, sebelum pulih lebih dari 450 poin dalam dua jam. Belum ada informasi baru yang menjelaskan volatilitas ekstrem tersebut.
Di tengah kilau pergerakan indeks, Apple turun sekitar 10 persen meski laporan kuartal ketiga fiskal menunjukkan lonjakan pendapatan berkat peningkatan penjualan iPhone sekitar 22 persen. Namun, kontribusi layanan yang melemah menekan sahamnya. Amazon naik lebih dari 15 persen setelah laba kuartal kedua melampaui ekspektasi berkat pertumbuhan bisnis cloud. Kedua saham tersebut tetap menjadi bagian dari Dow, menggambarkan dinamika pergerakan antar saham di dalam indeks.
Indeks ini memiliki bobot berbasis harga, sehingga pergerakan satu saham secara langsung mempengaruhi skor indeks dalam satuan poin. Dua nama yang bergerak dalam kisaran harga serupa namun bergerak berlawanan arah cenderung menambah atau mengurangi jumlah poin yang sama secara neto. Struktur performa beberapa nama teknologi besar juga memengaruhi lebar pergerakan indeks secara keseluruhan.
Imbal hasil jangka panjang tetap berada di dekat level tertinggi sejak 2007, dengan yield 30 tahun melaju di atas garis 4,0 persen dan yield 10 tahun berada di atas 4,7 persen. Kondisi ini muncul meski ekuitas masih diburu, menandakan dinamika antara pasar saham dan pasar obligasi yang tetap kompleks. Rapat sebelumnya juga menunjukkan komite yang menahan perubahan kebijakan, sambil menunggu data terbaru untuk menilai arah kebijakan berikutnya.
Indikator tenaga kerja menunjukkan kejutan positif. Employment Cost Index kuartal kedua naik 0,9 persen secara kuartal, melampaui konsensus 0,8 persen. Chicago PMI berada di 57,6, lebih tinggi dari ekspektasi 56, dan University of Michigan sentiment berada di 55,2 dengan ekspektasi 54. Inflasi inti komponen utama tidak bergerak signifikan, sedangkan ekspektasi inflasi satu tahun tetap di 4,2 persen dan lima tahun di 3,3 persen. Hal ini memunculkan interpretasi bahwa konsensus disinflasi tidak sejalan dengan peningkatan sentimen.
Pasar menanti payrolls Nonfarm yang akan dirilis pada bulan Agustus dengan konsensus sekitar 91 ribu pekerjaan, setelah 57 ribu pada bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,3 persen, sedangkan upah rata-rata diproyeksikan naik 0,3 persen bulan-ke-bulan dan 3,5 persen tahun-ke-tahun. Dengan rapat bank utama Agustus tidak ada, dua rilisan payroll datang menjelang keputusan pada pertengahan September, menjaga hal-hal tetap menantang bagi arah kebijakan moneter.
Komentar pejabat bank sentral menunjukkan tidak ada solusi instan bagi lima tahun harga di atas target, sehingga obligasi jangka panjang tetap menilai risiko inflasi yang tinggi lebih lama. Implikasi pasar obligasi adalah harga uang jangka panjang tetap rapuh meskipun ekuitas akhirnya bergerak lebih dinamis, karena investor menimbang bahwa kebijakan belum menunjukkan pelonggaran segera.
Rasio antara pasar ekuitas dan obligasi menunjukkan bahwa dua dinamika ekonomi bisa berjalan paralel meski harga minyak tetap didorong oleh permintaan global. Pasar mengikuti kedalaman data sehingga yield jangka panjang tetap tertimbang oleh ekspektasi inflasi dan kebijakan moneternya. Sinyal pasar saat ini menempatkan fokus pada data payrolls dan PMI yang akan datang untuk menguji durabilitas momentum ini.
Analisis teknikal menunjukkan bias bullish untuk Dow jika level 52.000 tetap terjaga, dengan target di sekitar 53.300. Rintangan utama berada di level sekitar 53.300, sedangkan stop berada di sekitar 52.000 untuk menjaga rasio risiko terhadap imbalan yang memadai. Dengan demikian, para trader perlu memantau pergerakan dekat 52.000 dan kesiapan untuk menindaklanjuti jika resistance di 53.300 berhasil ditembus.