Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat sekitar 400 poin pada Senin, menurut laporan Cetro Trading Insight, didorong harapan terhadap gencatan senjata dengan Iran. Indeks utama AS juga didorong oleh lonjakan harga minyak di awal pekan, serta pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengenai posisi kebijakan suku bunga saat ini yang dinilai tetap tepat. Pelaku pasar menilai bahwa risiko geopolitik telah meredam untuk sementara waktu, meski ketidakpastian tetap ada di balik komentar para pemimpin pasar.
Dow berhasil menembus level pembuka di sekitar 45.100 dan perlahan naik hingga lebih dari 45.600 sebelum akhirnya ditutup di atas 45.500. S&P 500 dan Nasdaq juga mengalami reli teknikal setelah beberapa minggu penurunan yang membawa beberapa indeks ke wilayah koreksi. Sentimen relief rally dipicu oleh laporan bahwa negosiasi damai dengan Iran sedang berlangsung dan upaya untuk membuka kembali jalur Hormuz terus dipantau pasar.
Meski optimisme menguat, para investor tetap waspada terhadap potensi kejutan geopolitik dan dinamika data ekonomi yang akan datang. Data pekan ini memang padat meskipun Jumat libur Paskah membuat volume perdagangan bisa melonjak tipis. Pasar juga memantau bagaimana kebijakan moneter akan menafsirkan lonjakan harga energi dan dampaknya terhadap aset berisiko.
Di sisi harga energi, Brent naik di atas 112 dolar per barel dan WTI naik sekitar 2% menuju level lebih dari 102 dolar meski ada optimisme terhadap progres negosiasi Iran. Ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi fokus pasokan minyak global, sehingga tekanan harga minyak tetap rentan terhadap berita geopolitik baru. Investor menilai bahwa stabilitas pasokan bisa membaik secara bertahap bila faktor risiko mereda.
Analis menilai bahwa dampak nyata lonjakan energi terhadap ekonomi akan bergantung pada respons kebijakan fiskal dan moneter. Mohamed El-Erian memperingatkan bahwa titik balik ekonomi lebih mungkin terjadi ketika gangguan pasokan fisik memburuk, terutama di Asia, yang berpotensi mendorong biaya impor ke tingkat lebih tinggi. Ia juga menyoroti keterbatasan ruang kebijakan karena defisit fiskal Amerika yang besar.
Powell menegaskan nada sabar dalam pidatonya di Harvard, menyatakan bahwa sikap saat ini terhadap suku bunga tepat mengingat kondisi yang bergejolak, terutama harga energi. Ia menekankan bahwa upaya kebijakan sebaiknya melewati lonjakan harga akibat tekanan pasokan daripada melakukan pengetatan agresif sekarang. Gubernur Fed Stephen Miran menyatakan pendapat berbeda, menilai bahwa lonjakan minyak tidak seharusnya menggeser jalur suku bunga dan kebijakan tetap ketat hingga inflasi lebih jelas menurun. Ketegangan ini menyoroti perbedaan pandangan antara mayoritas yang menahan diri dan minoritas dovish yang melihat ruang untuk pelonggaran jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan.
Jadwal data ekonomi pekan ini sangat padat meskipun libur Good Friday bisa membatasi volume perdagangan. Indikator kepercayaan konsumen untuk Maret dirilis Selasa, diikuti data JOLTS Februari yang diproyeksikan menurun sedikit. Investor menimbang bagaimana perkembangan geopolitik dan data tenaga kerja memengaruhi persepsi risiko di pasar saham global.
Rabu menjadi hari kunci dengan ADP Non-Farm untuk Maret yang diperkirakan menambah sekitar 40 ribu kerja, turun dari bulan sebelumnya. Penjualan ritel Februari diperkirakan naik 0,4% MoM setelah kontraksi 0,2% pada Januari. ISM Manufacturing PMI untuk Maret juga dirilis, dengan tingkat harga dibayar yang diperkirakan tetap tinggi, memberi sinyal tekanan biaya input yang berlanjut.
Kamis memperkirakan klaim pengangguran awal sekitar 212 ribu, sebelum NFP Maret pada Jumat yang dirilis pukul 12:30 GMT meski pasar libur. Upah per jam rata-rata diperkirakan meningkat 0,3% MoM dan tingkat pengangguran diproyeksikan stabil di 4,4%. Para pelaku pasar akan memproses data ini sepanjang akhir pekan Paskah sebelum pasar dibuka lagi pada Senin berikutnya.