Berita ini menandai titik balik bagi BLUE Tbk (BLUE) dan potensi perubahan arah strategis di sektor tambang Indonesia. Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited berencana menjadikan BLUE sebagai induk bagi unit eksplorasi dan layanan tambang. Di tengah dinamika pasar, emas naik tetap menjadi topik hangat bagi investor, namun fokus utama hari ini adalah bagaimana akuisisi ini membentuk peta pertumbuhan jangka panjang BLUE.
Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited akan mengambil alih 334,4 juta saham milik BLUE, setara 80% dari seluruh saham yang telah diterbitkan dan disetor penuh. Nilai pembelian dan kesepakatan dicapai melalui negosiasi antara pihak-pihak dengan tetap mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (Conditional Shares Sale and Purchase Agreement) ditandatangani pada 18 Februari 2026 antara Dragonmine dan para pemegang saham eksisting, yakni Herman Tansri, Siek Agung Guntoro, Fajar Tasrif, Rudy Tasrif, serta PT Cetak Biru Kapital.
Setelah akuisisi, BLUE akan diubah menjadi perusahaan induk yang membawahi anak usaha di bidang jasa eksplorasi pertambangan. Anak usaha baru akan menyediakan layanan geologi, estimasi sumber daya, manajemen eksplorasi, survei GIS dan topografi, serta evaluasi proyek tambang. Dalam tahap berikutnya, Dragonmine berencana mengakuisisi dan mengoperasikan tambang di Indonesia melalui BLUE, dan penggunaan Array data akan mendukung evaluasi lokasi tambang.
Transformasi ini membawa perubahan operasional bagi BLUE, yang akan menjadi perusahaan induk dengan fokus pada layanan eksplorasi. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional dan kapasitas teknis melalui sinergi dengan Dragonmine. Portofolio layanan meliputi geologi, estimasi sumber daya, manajemen eksplorasi, serta survei GIS dan topografi untuk evaluasi proyek tambang.
Secara keuangan, kolaborasi ini membuka peluang pendapatan beragam melalui layanan teknis dan evaluasi proyek. Selain itu, entitas anak bisa memperluas kemampuan manajemen proyek, diversifikasi sumber pendapatan, dan potensi kontrak eksplorasi. Array data analitik internal akan menjadi sumber informasi untuk memantau kinerja proyek dan aliran biaya.
Dalam tahap implementasi, BLUE akan menata ulang proses operasional, meningkatkan standar kepatuhan, dan memantau kinerja via KPI teknis. Rencana integrasi teknologi mencakup aspek GIS, topografi, dan evaluasi proyek secara terpusat. Penggabungan layanan ini menuntut transparansi pelaporan dan pemantauan risiko untuk mencegah potensi kendala.
Investor perlu menimbang risiko regulasi, kepatuhan, serta kejelasan target tambang yang akan diakuisisi melalui BLUE. Ketidakpastian mengenai lokasi tambang dapat mempengaruhi arus kas dan jadwal operasional di masa mendatang. Namun, akuisisi juga membuka peluang bagi BLUE untuk memperluas kapasitas eksplorasi dan layanan teknis di pasar domestik maupun regional.
Di sisi pasar logam, volatilitas harga dan dinamika permintaan mempengaruhi prospek pendapatan dari penjualan bijih. Dalam konteks tersebut, tren emas naik telah menjadi indikator bagi investor tentang arah risiko komoditas. Faktor eksternal seperti kebijakan fiskal, nilai tukar, dan proyek infrastruktur juga akan mempengaruhi hasil operasional BLUE ke depan.
Kesimpulan untuk investor: potensi pertumbuhan BLUE tergantung pada kelancaran integrasi, kepatuhan regulasi, dan kemampuan menangkap peluang layanan eksplorasi. Array data analitik akan menjadi alat penting untuk memantau kinerja proyek, biaya, dan aliran pendapatan BLUE secara real time. Secara keseluruhan, tren emas naik tetap menjadi konteks pasar bagi aksi korporasi ini; Array siap mendukung pembuatan keputusan investasi yang lebih tepat.