Menurut analisis Cetro Trading Insight, DXY melemah untuk hari kedua berturut-turut dan ditutup sekitar 99,57. Pergerakan ini terjadi di tengah posisi pasar menjelang rilis keputusan Federal Reserve. Para pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah sambil menimbang revisi proyeksi inflasi yang lebih tinggi serta kemungkinan satu potongan 25 bps di tahun ini.
Investors juga fokus pada bagaimana pernyataan kebijakan akan menyikapi dinamika geopolitik terkait Iran. Banyak pejabat bank sentral diperkirakan menahan jalur suku bunga, tetapi ada nada dua arah mengenai jalur kebijakan karena risiko inflasi yang lebih tinggi serta dampak terhadap kerja. Input ini diharapkan bisa menambah volatilitas sebelum keputusan akhir.
Dalam Summary of Economic Projections (SEP), pasar kemungkinan merevisi naik proyeksi inflasi PCE akibat perang Iran, sambil menunjukkan tanda-tanda perlambatan aktivitas ekonomi. Analis menilai rencana pemangkasan 25 basis poin tetap menjadi skenario utama untuk tahun ini. Meski demikian, risiko inflasi lebih tinggi dan dinamika pasar tenaga kerja dapat membuat jalur kebijakan berfluktuasi.
Risiko terkait perang Iran diperkirakan menjadi fokus utama dalam pengarahan kebijakan ke depan. Pernyataan kebijakan kemungkinan menambahkan bahasa dua arah pada jalur suku bunga, menandai risiko inflasi yang lebih tinggi serta risiko terhadap lapangan kerja. Hal ini berpotensi menambah volatilitas saat para trader menilai sinyal konkret dari bank sentral.
Analisa pasar juga menilai bahwa perang regional bisa memicu revisi naik proyeksi inflasi PCE tahun ini, sementara aktivitas ekonomi diprediksi memburuk sedikit. Meskipun prospek baseline masih memperkirakan beberapa langkah pemotongan suku bunga, dinamika geopolitik dapat menahan atau mempercepat jalurnya.
Meski ketidakpastian tinggi, proyeksi pasar tetap mengantisipasi satu pemotongan 25 bps di tahun ini, sebagaimana disampaikan oleh konsensus. Walau demikian, pelaku pasar perlu menimbang bahwa arah kebijakan bisa berubah tergantung bagaimana perang Iran berkembang dan data inflasi berikutnya. Ketergantungan pada sinyal pasar membuat trader fokus pada manajemen risiko.
Bagi trader, pelemahan dolar yang terlihat menambah peluang likuiditas bagi pasangan mata uang utama. Namun konteks keputusan Fed dan dinamika geopolitik menambah ketidakpastian dalam pergerakan jangka pendek. Karena tidak ada sinyal perdagangan eksplisit dari berita ini, pelaku pasar disarankan menyiapkan rencana manajemen risiko yang matang.
Langkah praktis yang dianjurkan meliputi memantau rilis SEP secara berkala, menilai perubahan proyeksi inflasi, dan menyesuaikan eksposur sesuai volatilitas. Trader juga didorong untuk menggunakan ukuran posisi yang tepat, menambahkan stop loss yang ketat, dan menjaga likuiditas cadangan untuk menghadapi gejolak pasar. Inti dari saran ini adalah menjaga kendali risiko meskipun arah tren dolar tidak jelas.
Singkatnya, meski dolar bisa melemah atau menguat tergantung kejutan kebijakan, pendekatan berbasis risiko dengan rencana terukur lebih relevan daripada mencoba menebak arah tren jangka pendek. Pasar tetap rentan terhadap kejutan data ekonomi dan pernyataan kebijakan, sehingga manajemen risiko menjadi prioritas utama. Investor dan trader disarankan mengikuti pembaruan kebijakan secara berkala untuk menilai peluang baru.