Indeks dolar AS (DXY) turun ke kisaran 98.80 setelah laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS menunjukkan inflasi tetap membandel. Hal ini mempertegas sikap berhati-hati The Fed terhadap jalur kebijakan moneternya. Pergeseran ini juga memicu penurunan imbal hasil obligasi AS yang pada akhirnya menekan Greenback.
Namun angka klaim pengangguran awal yang mengejutkan menunjukkan potensi pelunakan pada pasar tenaga kerja. Data tersebut menambah ketidakpastian seputar bagaimana inflasi dan pekerjaan akan membentuk kebijakan ke depan. Secara keseluruhan, dinamika ini menimbulkan volatilitas di pasar pinjaman dan likuiditas global.
Gabungan antara inflasi yang terus tinggi dan data pekerjaan yang lemah membuat investor menimbang arah kebijakan moneter. Ketidakpastian ini mendorong pergeseran aset-aman dan menekan daya tarik dolar terhadap mata uang utama lainnya. Respons pasar juga terlihat pada pergerakan imbal hasil yang cenderung lebih rendah di pasar obligasi AS.
Di panggung geopolitik, beberapa perkembangan memberikan nada yang lebih konstruktif meski kondisi regional tetap rapuh. Seorang pejabat Israel menyatakan bahwa operasi di Lebanon bisa dilonggarkan karena tekanan Amerika Serikat, meski eskalasi militer belum mereda. Pasar tetap memperhitungkan risiko geopolitik sebagai faktor utama volatilitas harga.
EUR/USD menguat menuju sekitar 1.1700 didorong oleh penurunan imbal hasil AS dan perbaikan sentimen risiko. Namun kenaikan ini dibatasi oleh ketidakpastian geopolitik dan prospek pertumbuhan global yang tidak merata. Investor tetap menantikan rilis data ekonomi penting untuk konfirmasi arah berikutnya.
GBP/USD juga pulih mendekati 1.3430, mencerminkan respons pasar terhadap gerak umum dolar. Sementara USD/JPY kehilangan tenaga bullish dan berkisar di sekitar 159.00, penurunan imbal hasil AS mengurangi daya tarik carry trade. Yen tetap mendapat dukungan dari sentimen yang lebih hati-hati meski belum mengalami reli signifikan.
Minyak WTI tetap berada di level tinggi tetapi menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, seiring prospek pelonggaran operasi Israel di Lebanon meredakan kekhawatiran pasokan. Meskipun demikian, risiko geopolitik regional masih membayangi harga minyak dalam jangka pendek hingga menengah. Pelaku pasar memonitor dinamika produksi dan konflik regional sebagai kunci arah kisaran harganya.
Emas berhasil bertahan di sekitar level sekitar $4,771 per ons, didorong oleh penurunan imbal hasil riil dan pelemahan dolar. Ketidakpastian geopolitik terus menambah daya tarik logam kuning sebagai aset lindung nilai. Permintaan safe-haven tetap kuat meski pasar juga memantau rilis data ekonomi selanjutnya.
Data utama yang akan dirilis hari itu, termasuk CPI AS, pesanan pabrik, dan ekspektasi inflasi University of Michigan (UoM), berpotensi menggerakkan arah pasar jika hasilnya menyimpang dari ekspektasi. Investor menunggu konfirmasi arah kebijakan moneter AS serta respons pasar terhadap angka-angka tersebut. Kondisi ini berpotensi meningkatkan volatilitas di FX dan komoditas dalam beberapa sesi mendatang.