
Analisis ini dirilis oleh media kami yaitu Cetro Trading Insight. Danske Research Team menilai ECB akan menaikkan suku bunga deposito sebesar 25 basis poin menjadi 2.25 persen pada 11 Juni, sejalan dengan harga pasar dan konsensus para analis. Langkah ini dipandang sebagai kelanjutan jalur kebijakan yang lebih hawkish meskipun ada risiko pertumbuhan yang melambat di zona euro. Dalam konteks ini, pergerakan kurs dan imbal hasil akan mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap rencana pengetatan kebijakan di masa mendatang.
Fakta bahwa inflasi inti mengalami kejutan positif dan Oil futures bergerak lebih tinggi menambah tekanan pada proyeksi harga. Para analis menilai bahwa dinamika ini bisa mendorong revisi proyeksi inflasi ke arah yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi staf pada Maret lalu. Skenario ini penting bagi pelaku pasar karena memengaruhi harga aset berisiko maupun nilai tukar utama. Perubahan tersebut bisa menambah volatilitas jangka pendek namun tetap berada pada kerangka kebijakan yang diremkan oleh data aktual.
Para ahli menandaskan bahwa proyeksi staf terbaru kemungkinan memasukkan sekitar 68 basis poin kenaikan dalam asumsi teknis. Dengan demikian, Governing Council ECB memiliki argumen untuk dua kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Mereka juga menyebut bahwa satu kenaikan lagi di kuartal ketiga tidak akan mengubah kondisi ekonomi secara signifikan, meskipun ekonomi zona euro cenderung untuk menahan laju peningkatan kebijakan. Secara umum, gambaran ini menandakan kebijakan yang lebih tinggi pada tahun ini dengan implikasi bagi nilai tukar dan spread obligasi jangka pendek.
Dalam pembaruan terbaru, minyak mentah berperan sebagai pendorong utama terhadap inflasi. Proyeksi staf baru menaikkan estimasi inflasi 2026 menjadi 2.9 persen secara year on year dan 2027 menjadi 2.2 persen, jauh di atas angka sebelumnya. Sementara itu, data pertumbuhan menunjukkan pelemahannya dengan proyeksi 2026 turun menjadi 0.6 persen dan 2027 meningkat menjadi 1.2 persen. Kombinasi ini mencerminkan dinamika ekonomi yang lebih rapuh meski tekanan harga cenderung naik.
Dalam konteks kebijakan, proyeksi staf mengasumsikan sekitar 68 basis poin kenaikan sepanjang kerangka teknis. Hal ini memperkuat argumen GC untuk melakukan dua putaran kenaikan pada tahun berjalan. Korelasi antara inflasi yang lebih tinggi dan langkah-langkah kebijakan menambah keyakinan bahwa penataan kebijakan akan berlangsung secara bertahap, dengan pendorong utama pada sisi harga dan likuiditas pasar.
Karena satu kenaikan saja tidak secara signifikan mengubah kondisi ekonomi, para analis memperkirakan bahwa satu lagi kenaikan 25bp di kuartal ketiga akan tetap diperlukan. Penentuan ini didasarkan pada asumsi bahwa tekanan inflasi akan bertahan dan pertumbuhan zona euro menunjukkan perbaikan moderat pada 2026 ke depan.
Strategi pasar menunjukkan bahwa jalur kebijakan yang lebih hawkish dapat memberikan dukungan bagi euro terhadap dolar AS dalam jangka menengah. Namun, pertumbuhan yang lebih lemah di zona euro dapat membatasi upside euro jika data ekonomi tidak mengikuti perlambatan global. Secara kombinasi, ekspektasi kenaikan bertahap oleh ECB cenderung menjaga volatilitas mata uang utama tetap tinggi.
Selain itu, dinamika harga minyak yang lebih tinggi menambah tekanan pada sisi inflasi dan mempengaruhi pergerakan imbal hasil. Pasar fiskal dan likuiditas jangka pendek juga terpengaruh oleh sikap kebijakan ECB. Bagi pelaku pasar, fokus utama adalah pada pergerakan kurs EURUSD, pergeseran imbal hasil, dan bagaimana proyeksi 2026‑2027 membantu membentuk level entry dan keluar.
Secara keseluruhan, pandangan ini menempatkan Cetro Trading Insight pada posisi untuk merekomendasikan kehati-hatian. Meskipun garis kebijakan cenderung naik, rasio risiko terhadap imbalan tetap penting. Karena sinyal saat ini adalah netral, para trader disarankan memonitor data rilis dan menghindari langkah berisiko tinggi tanpa konfirmasi dari data ekonomi.