Artikel ini dirilis oleh Cetro Trading Insight untuk menilai jajak Reuters tentang kebijakan ECB. Hasilnya menunjukkan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga setidaknya satu kali meningkat menjadi 21 dari 3 pada bulan Maret. Dari 60 ekonom yang disurvei, 39 orang atau 65% tetap tidak mengantisipasi perubahan kebijakan. Perubahan harga pasar uang mencerminkan repricing yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.
Pasar mencoba menimbang dampak tekanan inflasi yang mungkin datang dari konflik Iran terhadap laju harga. Lagarde menegaskan bank sentral siap menaikkan suku bunga pada rapat mana pun jika tekanan inflasi meningkat, meski saat ini dinilai terlalu awal untuk bertindak. Proses evaluasi fokus pada skala serta keberlanjutan lonjakan energi sebagai faktor pendorong.
Eksekutif ECB menekankan bahwa pengaruh langsung terhadap harga energi tidak tersedia bagi bank sentral, melainkan bank sentral akan memantau spillover ke inflasi inti, upah, dan ekspektasi harga. Para pejabat juga menekankan pentingnya memahami dampak tidak langsung terhadap sektor nyata sebelum mengambil langkah kebijakan. Dengan demikian, kebijakan tetap di posisi netral sampai data terbaru mengonfirmasi arah tekanan harga.
Komentar Lagarde kemarin menambah nada hawkish dan memicu reaksi pasar terhadap kemungkinan penyesuaian kebijakan. Sinyal ini didorong oleh evaluasi bahwa inflasi bisa kembali meningkat jika tekanan energi berlanjut. Pasar obligasi dan valas merespons dengan perubahan harga imbal hasil jangka pendek hingga menengah.
Nagel membawa nuansa tegas yang memperkuat kecenderungan bear flattening pada kurva 2s/10s dan 5s/30s. Pergerakan spreads sejauh ini mengarah pada level serupa dengan Maret ketika Jerman melonggarkan kendali utang dan meluncurkan paket fiskal untuk pertahanan dan keamanan. Sorotan utama pasar adalah swap inflasi 5y5y yang ditutup pada 2,12%, level terendah sejak 4 Maret.
Secara umum, nada pasar tetap berhati-hati karena fokus utama adalah ukuran skala serta dampak energi terhadap inflasi. Data inflasi dan dinamika energi menjadi faktor penentu arah kebijakan dalam beberapa minggu ke depan. Analisis ini mencerminkan kombinasi risiko geopolitik dan peluang bagi pelaku pasar global.
Energi sebagai komponen utama tekanan inflasi memicu penilaian ulang terhadap risiko makro dan likuiditas di pasar uang serta obligasi jangka menengah. Investor menilai bahwa volatilitas akan tetap tinggi sampai data inflasi baru mengkonfirmasi arah kebijakan. Kebijakan ECB akan dilihat melalui lensa perubahan harga energi dan dampaknya terhadap ekspektasi inflasi.
ECB tidak memiliki instrumen langsung untuk menurunkan harga energi, tetapi dampaknya bisa terlihat lewat perubahan kurs dan imbal hasil karena ekspektasi kebijakan memicu pergeseran portofolio. Jajak Reuters menunjukkan adanya pembagian pandangan di antara ekonom mengenai kapan kebijakan akan berubah, sehingga sentimen pasar cenderung fluktuatif. Ketidakpastian ini mengundang penyesuaian posisi pada EURUSD seiring data inflasi dan dinamika energi berfungsi sebagai pendorong utama.
Secara keseluruhan, pesan kebijakan ECB dan reaksi pasar menyoroti pentingnya manajemen risiko bagi pelaku pasar. Konflik geopolitik dan dinamika pasar energi menjadi pendorong utama volatilitas jangka pendek, sementara arah kebijakan akan lebih jelas setelah data inflasi mengalami pembaruan dalam beberapa minggu ke depan.