Menurut ekonom ABN AMRO Bill Diviney dan Jan-Paul van de Kerke, ECB diperkirakan merespons kejutan energi dengan langkah pengetatan tambahan. Mereka menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tidak bisa memulihkan pasokan energi yang hilang akibat konflik, namun kebijakan ini dapat menahan laju inflasi dengan menjaga ekspektasi tetap terkendali. Fokus utama adalah mencegah risiko efek inflasi berantai melalui kebijakan moneter yang tegap.
Kebijakan ini sejalan dengan gambaran yang berkembang bahwa pengetatan lebih lanjut akan diarahkan untuk mengurangi tekanan inflasi jangka menengah. Meskipun pasokan energi belum kembali normal, target inflasi 2% tetap menjadi acuan utama dalam menimbang kapan kebijakan perlu dinormalisasi. Fenomena ini menekankan pentingnya kebijakan yang responsif namun terukur.
Para analis juga menekankan bahwa dukungan fiskal tetap menjadi pilihan yang hati-hati. Mereka menyoroti bahwa dampak terhadap pendapatan riil kali ini diperkirakan lebih kecil, dan pemerintah berada dalam posisi yang lebih terbatas secara fiskal. Selain itu, risiko volatilitas pasar obligasi membuat pemerintah lebih waspada terhadap respons kebijakan fiskal yang tidak terarah, sementara Lagarde menekankan tiga Ts sebagai pedoman dalam kebijakan fiskal.
Inti dari rekomendasi ini adalah pengetatan kebijakan moneter yang dirancang untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terfragmentasi di tengah ketidakpastian energi. Pengetatan tersebut diarahkan menahan second-round effects agar tekanan harga tidak menyusupi komponen upah dan konsumsi rumah tangga. Dengan demikian, moneter diharapkan bisa menahan dinamika inflasi tanpa mengorbankan stabilitas aliran kredit.
Para ekonom menilai bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut dua kali dalam beberapa bulan ke depan menjadi bagian dari base case yang realistis. Langkah ini akan meneguhkan sinyal kebijakan bahwa inflasi bukan hanya materi saat ini, melainkan proyeksi jangka menengah juga menjadi fokus. Sementara itu, pengetatan perlu diseimbangkan dengan kebijakan fiskal yang tetap terarah dan tepat sasaran.
Meskipun tindakan ini tidak bisa menggantikan kurangnya pasokan energi, kebijakan yang lebih tegas dapat menjaga ekspektasi inflasi tetap kukuh pada target 2%. Pada saat wage growth telah berada pada level yang konsisten dengan target, tekanan ke atas harga konsumen dapat dikendalikan dengan lebih efektif. Perlu dicatat bahwa penguatan kebijakan ini juga menekankan perlunya kehati-hatian dalam menyalurkan dukungan fiskal pada tingkat yang tepat.
Kebijakan fiskal diperkirakan tetap terbatas karena dampak terhadap pendapatan riil diperkirakan lebih moderat dibandingkan krisis sebelumnya. Pemerintah cenderung lebih terikat secara fiskal dan lebih waspada terhadap dinamika pasar obligasi yang volatil. Dalam konteks ini, dukungan fiskal non-terarah berisiko memicu tekanan inflasi berulang jika tidak disalurkan dengan tepat sasaran.
Dalam konferensi pers terakhir, Presiden ECB Lagarde menekankan prinsip Three Ts: temporary, targeted, dan tailored. Ia menekankan bahwa langkah-langkah kebijakan harus dirancang sedemikian rupa agar tidak memperburuk inflasi jangka panjang. Fokus kebijakan adalah menjaga kredibilitas dan kesinambungan narasi inflasi yang stabil.
Kebijakan ECB dinilai akan terus memantau perkembangan pasar tenaga kerja, harga energi, dan dinamika harga energi untuk menilai kebutuhan pengetatan lebih lanjut. Investor diharapkan berhati-hati terhadap lonjakan volatilitas, meskipun aliran kredit tetap terjaga secara umum melalui penyesuaian suku bunga yang bertahap.