PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp126 miliar kepada pemegang saham melalui RUPSTLB yang digelar pada 9 Maret 2026. Nilai dividen ini setara Rp17 per saham, atau sekitar 59,07 persen laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Dalam konteks pasar modal Indonesia, harga emas 24 sekarang sering menambah dinamika risiko, namun kinerja keuangan ELPI tetap menunjukkan stabilitas arus kas dan kemampuan membayar imbal hasil.
Dividen yang dibayarkan merupakan bagian dari tren kenaikan sepanjang beberapa tahun terakhir. Pada 2023 perseroan membagikan Rp46,69 miliar, lalu meningkat menjadi Rp100,06 miliar atau Rp13,50 per saham pada 2024, dan kini Rp126 miliar. Array analitis yang dihimpun oleh Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa peningkatan dividen mencerminkan kapasitas operasional yang kuat dan kebijakan pembagian laba yang berkelanjutan.
Selain pembagian dividen, RUPSTLB juga menyetujui rencana aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue. Perseroan berencana menerbitkan sebanyak 2.112.420.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Harga pelaksanaan rights issue akan ditetapkan setelah pernyataan efektif dari OJK, dan pemegang saham pendiri tidak mengambil bagian haknya, dialihkan kepada GMT Kapital Asia dan/atau pihak lain. Porsi kepemilikan publik dijaga di 15 persen, dan jika saham yang ditawarkan kepada publik tidak terserap seluruhnya, telah disiapkan standby buyer untuk menyerap sisa saham.
Rencana rights issue I tidak hanya soal likuiditas; perseroan juga menegaskan bahwa dana dari rights issue akan mendukung belanja modal capex, operasi, dan likuiditas umum. Langkah ini menjadi pondasi untuk memperkuat basis keuangan sebelum fase ekspansi, sambil menjaga kelancaran arus kas di tengah dinamika industri maritim. Dalam konteks pasar, harga emas 24 sekarang bisa menjadi referensi volatilitas bagi investor sehingga perusahaan menyeimbangkan kebutuhan modal dengan pelaksanaan rencana ekspansi.
Array analitis menunjukkan bahwa rights issue berpotensi menimbulkan volatilitas jangka pendek pada harga saham ELPI. Namun jika haknya terserap dengan baik, likuiditas pasar akan meningkat dan biaya modal bisa turun seiring dengan penguatan fundamental perseroan. Struktur kepemilikan publik dipertahankan pada 15 persen dengan mekanisme standby buyer untuk menyerap sisa saham jika diperlukan.
Sumber pendanaan dari rights issue akan dialokasikan untuk dua arah utama. Sekitar Rp1,5 triliun direncanakan untuk diversifikasi bisnis pada sektor Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) serta subsea, sedangkan sekitar Rp500 miliar digunakan untuk pengadaan lima unit kapal Offshore Support Vessel (OSV) demi memperkuat armada operasional perseroan.
Proyek Floating Liquefied Natural Gas FLNG menjadi fokus utama dengan kontrak bernilai sekitar Rp2,39 triliun dan durasi kerja sama 18 tahun. Proyek ini akan melibatkan enam kapal baru dan dilaksanakan melalui kerja sama antara ELPI dan PT Layar Nusantara Gas, entitas anak dari Genting Oil and Gas asal Malaysia. Pelaksanaan FLNG diharapkan memperkuat posisi ELPI dalam mendukung pengembangan industri energi dan jasa maritim di Indonesia.
Selain FLNG, perusahaan menegaskan alokasi belanja modal sekitar Rp1,5 triliun pada 2026 untuk memperluas diversifikasi ke EPCI dan subsea serta sekitar Rp500 miliar untuk pengadaan lima OSV guna memperkuat armada operasional. Proyek ini diharapkan berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan jangka panjang dengan sinergi antara layanan maritim dan solusi energi, meski tahap penjajakan masih berlangsung.
Sinyal perdagangan untuk ELPI pada saat ini dinilai netral dan cenderung tidak ada sinyal untuk aksi beli atau jual (sinyal no). Investor disarankan untuk menilai perkembangan proyek dan pernyataan resmi selanjutnya dari manajemen sebelum mengambil posisi pasar jangka pendek, sambil memantau dinamika likuiditas dan dampak terhadap kinerja keuangan perseroan.