Emas mengalami tekanan jual tajam setelah mencapai level tertinggi sepanjang minggu akibat likuidasi paksa pada posisi terleverase. Para pelaku pasar menilai kembali prospek kebijakan The Fed di tengah spekulasi mengenai siapa yang akan menggantikan Ketua Powell. Di saat yang sama, dorongan safe-haven tetap terlihat karena ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang berlanjut.
Harga XAU/USD sempat turun sekitar 5% pada hari itu, setelah sempat meningkat di awal minggu. Meski demikian, emas berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan tertinggi sejak 1980, didorong oleh permintaan perlindungan nilai di tengah volatilitas pasar. Kondisi ini menciptakan dinamika antara potensi koreksi jangka pendek dan tren kenaikan jangka panjang.
Penjualannya dipercepat sejalan dengan perhitungan pasar terhadap The Fed yang mungkin kurang dovish setelah munculnya kandidat hawkish. Perkembangan ini mendorong penguatan Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah, menekan logam kuning meskipun masih dibutuhkan konfirmasi arah jangka menengah.
Langkah Trump dalam mencalonkan Kevin Warsh memicu reframing pandangan investor terhadap potensi pemotongan suku bunga. Warsh dianggap lebih hawkish dibanding kandidat lainnya, mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga agresif. Hal ini menambah tekanan terhadap emas karena dolar cenderung menguat saat imbal hasil obligasi naik.
Indeks Dolar AS (DXY) rebound dari level rendah yang tercapai minggu lalu, diperdagangkan sekitar 96,48, setelah menyentuh sekitar 95,56. Momen dolar yang lebih kuat ini berkontribusi pada pelemahan emas dalam sesi terakhir, meski beberapa faktor fundamental seperti ketegangan geopolitik tetap menyiratkan ancaman terhadap volatilitas pasar.
Di sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran meningkat dengan peringatan mengenai kemungkinan tindakan militer terkait program nuklir Iran. Sementara itu, kebijakan moneter The Fed tetap jadi sorotan dengan pernyataan bahwa beban kebijakan akan disesuaikan jika risiko menimbulkan ancaman pada kemajuan mandat. Pasar terus memantau indikator ekonomi, termasuk IHP dan PMI, untuk petunjuk arah kebijakan selanjutnya.
Secara teknis, momentum bearish terlihat menanjak setelah pembalikan tajam dari puncak rekor. Pergerakan harga menunjukkan tekanan jual yang intens pada sesi-sesi terakhir, dengan level support penting di sekitar area 5.000-5.100 yang sebelumnya bertindak sebagai zona penyangga.
Trader dapat mempertimbangkan posisi jual jika harga menembus resistance pendek di sekitar 5.150-5.200 dengan target near-term di 5.000, lalu 4.900 sebagai level berikutnya. Namun risiko volatilitas tetap tinggi akibat dinamika suku bunga dan konflik geopolitik yang bisa memicu reli tajam ke atas jika ada pergeseran kebijakan. Manajemen risiko tetap menjadi kunci karena rata-rata risiko terhadap imbalan memerlukan kepatuhan pada trail stop dan ukuran posisi yang tepat.
Secara keseluruhan prospek jangka menengah emas tetap didorong oleh permintaan safe-haven dan ketidakpastian global, meski volatilitas jangka pendek masih tinggi. Investor disarankan memantau pernyataan The Fed, arah dolar, serta data makro untuk konfirmasi tren berikutnya.