Menurut Cetro Trading Insight, harga emas rebound mendekati level sekitar 4.660 dolar AS pada sesi Asia awal, menandai respons pasar terhadap kekhawatiran inflasi yang muncul dari ketegangan geopolitik. Pergerakan ini juga dipicu kekhawatiran pasokan terkait tertutupnya jalur Hormuz yang berpotensi menambah tekanan harga minyak. Ketidakpastian geopolitik sering kali membuat investor mencari aset safe haven, meskipun emas tidak memberikan hasil (yield).
Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan bahwa proposal gencatan senjata belum cukup, menambah ketegangan menjelang batas waktu untuk tindakan militer terhadap infrastruktur Iran jika jalur Hormuz tidak dibuka. Ketegangan seperti ini sering menciptakan volatilitas harga emas karena pasar menilai risiko geopolitik terhadap stabilitas pasokan energi dan inflasi. Selain itu, pasar juga mengawasi pergerakan harga minyak yang lebih tinggi sebagai sinyal biaya energi yang lebih besar di masa depan.
Futures menunjukkan peluang nol untuk perubahan kebijakan pada pertemuan Komite Pasokan Terbuka Federal (FOMC) pada akhir April, dengan peluang sekitar 77,5% bahwa Fed akan menahan suku bunga hingga akhir tahun, menurut alat CME FedWatch. Namun dinamika geopolitik tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena bisa membatasi potensi pelonggaran kebijakan maupun mendorong fluktuasi harga emas secara jangka pendek.
Analisis pasar menunjukkan bahwa ekspektasi pemotongan suku bunga dari Federal Reserve cenderung bergeser karena kekhawatiran inflasi dan tekanan biaya energi. Fed yang diperkirakan menahan suku bunga menimbang pengaruh terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas. Ketika suku bunga berada pada level tinggi, minat terhadap aset berimbal hasil menjadi lebih besar, meskipun faktor geopolitik bisa memberikan dukungan sementara bagi emas sebagai pelindung risiko.
Seiring kekhawatiran terkait Hormuz, minyak naik akibat kekhawatiran pasokan dan inflasi berpotensi naik, memengaruhi proyeksi kebijakan moneter. Pasar tetap memantau pernyataan pejabat Fed serta rilis data inflasi untuk menyusun ulang pandangan tentang kapan pemangkasan suku bunga akan terjadi. Ketidakpastian ini membuat investor menjaga posisi hati-hati dan mempertimbangkan diversifikasi untuk mengelola risiko.
Di tengah latar belakang tersebut, indikator pasar menunjukkan bahwa ekspektasi jangka pendek lebih berat pada penahanan kebijakan daripada pemangkasan, meskipun risiko geopolitik dapat memicu pergerakan harga secara sesekali. Investor perlu memperhatikan kronologi kejadian geopolitik dan laporan ekonomi sebagai faktor yang membentuk arah jangka menengah hingga panjang untuk XAUUSD.
Para pelaku pasar disarankan memantau level utama harga sekitar 4.660 dolar sebagai acuan awal untuk evaluasi arah pergerakan selanjutnya. Jika harga tetap bertahan di level tersebut, skenario volatilitas bisa menguat karena memperhatikan perkembangan geopolitik dan harapan kebijakan moneter. Para investor perlu menilai risiko terhadap proporsi portofolio dan menggunakan manajemen risiko yang tepat untuk melindungi modal.
Dalam kerangka risiko-perdagangan, sebaran risiko perlu diatur melalui diversifikasi aset dan penggunaan instrumen lindung nilai. Skema alokasi yang bijak bisa membantu menjaga stabilitas kinerja portofolio ketika volatilitas meningkat.
Dalam skenario terbaik bagi emas, pemicu utama adalah potensi perubahan kebijakan moneter yang lebih dovish atau solusi damai terkait krisis Hormuz yang menekan biaya energi. Investor disarankan tetap waspada terhadap sinyal teknikal yang mendasar karena pergerakan harga bisa berubah dengan cepat.