Harga emas turun pada pembuka sesi Asia, menandai tekanan jual yang meningkat setelah pasar membuka perdagangan hari itu. Pergerakan logam mulia ini merefleksikan respons terhadap data ekonomi dan perubahan sikap investor terhadap aset berdenominasi dolar. Para analis menunjukkan bahwa faktor fundamental saat ini menjadi kunci pembentuk arah harga dalam jangka pendek.
Klaim tunjangan pengangguran awal AS secara tak terduja turun menjadi 198.000 untuk pekan yang berakhir 10 Januari, menurut Departemen Tenaga Kerja. Angka tersebut lebih rendah dari konsensus pasar dan dibanding pekan sebelumnya. Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS dan memberikan tekanan terhadap emas yang dihargai dalam mata uang tersebut.
Di saat yang sama, pedagang menantikan laporan Produksi Industri AS bulan Desember yang akan dirilis kemudian. Rilis tersebut diharapkan membantu menilai kesehatan sektor manufaktur dan mempengaruhi dinamika kebijakan moneter. Penilaian terhadap arah kebijakan The Fed juga menjadi bagian penting dari diskusi pasar hari itu.
Penguatan dolar yang dipicu data kerja AS memperketat daya tarik emas bagi investor global. Ketika dolar menguat, pembeli emas luar negeri menjadi lebih mahal, sehingga permintaan logam kuning cenderung melemah dalam jangka pendek. Proses ini memberikan tekanan tambahan pada harga emas di sesi perdagangan berikutnya.
Investors memperhatikan komentar dari pejabat The Fed, termasuk Gubernur Michelle Bowman, karena pernyataan mereka dapat memberikan petunjuk tentang rencana kebijakan untuk paruh pertama tahun ini. Ketidakpastian kebijakan moneter sering kali meningkatkan volatilitas pasar logam mulia. Secara umum, data ekonomi yang kuat cenderung menekan emas, kecuali ada faktor pendukung lain.
Secara teknikal, harga emas saat ini berada dalam fase koreksi pasca-penguatan sebelumnya, dengan fokus pada pergerakan indeks dolar sebagai indikator arah jangka pendek. Skenario utama menimbang potensi tes level resistance jika data manufaktur AS menunjukkan kekuatan lebih lanjut.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mempengaruhi volatilitas emas. Meskipun beberapa tanda mereda, ketidakpastian regional tetap menjadi faktor penting bagi investor yang mencari perlindungan nilai. Ketidakpastian ini sering menjadi dukungan bagi emas sebagai aset safe-haven dalam jangka pendek.
Pernyataan Presiden AS terkait protes di Iran dan kemungkinan konsekuensi berat jika eskalasi berlanjut menambah kompleksitas sentimen pasar. Pasar juga memantau perkembangan terkait nasib pengunjuk rasa yang ditahan, yang bisa memicu respons volatilitas lebih lanjut di pasar global.
Melihat beberapa sesi ke depan, fokus utama adalah data ekonomi AS dan perkembangan geopolitik. Jika ketegangan meningkat, emas bisa mendapatkan dorongan sebagai aset safe-haven. Namun jika ketidakpastian mereda, tekanan terhadap emas bisa berlanjut karena dinamika kebijakan moneter dan faktor fundamental lainnya.