Di tengah badai volatilitas global, Grup Bakrie kembali memikat investor dengan dinamika harga sahamnya yang tahan uji. Sentimen positif muncul dari unit bisnis migas dan logistik yang tersegmentasi dalam portofolio mereka. Di saat IHSG berjuang menahan laju penurunan, kekuatan inti sektor energi menjadi penopang utama bagi pemulihan kepercayaan pasar.
Secara umum, pergerakan saham Grup Bakrie menunjukkan adanya katalis yang mendobrak arus pelemahan. Fokus investor tertuju pada ENRG yang baru-baru ini menjadi sorotan karena temuan cadangan dan optimisme ekspansi. Cetro Trading Insight menilai momen ini sebagai peluang bagi investor jangka menengah, meski tetap menyarankan kehati-hatian terhadap volatilitas minyak.
Melalui liputan ini, kami menyajikan analisis berbasis fakta pasar dan laporan resmi untuk memandu pembaca awam memahami dinamika grup. Perlu dicatat bahwa keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca, dengan manajemen risiko yang jadi prioritas.
ENRG baru saja mengumumkan temuan cadangan minyak melalui anak usaha PT EMP Tunas Energi dari sumur Cenako-1 Twin di blok South CPP, Riau. Penemuan ini berpotensi mengubah profil cadangan perseroan dan mendukung rencana ekspansi di segmen eksplorasi. Pemberitaan ini datang menjelang pergerakan harga minyak dunia yang kembali meningkat karena dinamika geopolitik.
Berdasarkan uji sumur dan analisis subsurface per 17 Maret 2026, Cenako diperkirakan memiliki original oil in place sekitar 15,6 juta barel. Kedalaman sumur mencapai 2.475 kaki atau sekitar 754 meter, menunjukkan progres eksplorasi yang signifikan. ENRG berencana melanjutkan eksplorasi untuk mengubah temuan ini menjadi cadangan yang siap dikembangkan secara komersial.
Dengan konteks pasar saat ini, sentimen positif terhadap ENRG didorong bukan hanya oleh faktor cadangan, tetapi juga oleh potensi harmonisasi antara harga minyak dan kapasitas produksi perseroan. Cetro Trading Insight mengamati bahwa momentum ini bisa menjadi sinyal bullish jangka menengah selama tetap diiringi faktor-faktor fundamental kuat dan likuiditas pasar yang mendukung.
Sementara ENRG membidik pertumbuhan melalui eksplorasi, kontraktor tambang PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menunjukkan dinamika kinerja keuangan yang mengantar sahamnya bergerak lebih tinggi. Laba bersih DEWA 2025 mencapai Rp4,3 triliun, lonjak signifikan dibanding 2024, meskipun sebagian besar berasal dari satu kali manfaat akuntansi. Kinerja operasionalnya tetap menjadi fokus perhatian investor.
Analisa pasar oleh Stockbit dan pakar keuangan menunjukan kontribusi dari pengakuan negative goodwill sebesar Rp4,5 triliun terkait akuisisi Gayo Mineral Resources (GMR), yang menciptakan keuntungan akuntansi besar. Secara operasional, core profit DEWA naik menjadi Rp573 miliar pada 2025, didorong peningkatan margin laba kotor ke 15,1 persen. Prospek 2026 menunjukkan target core profit sekitar Rp910 miliar, didorong ekspansi in-house hingga 100 persen dan kenaikan volume kontrak sekitar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik KPC.
Selain itu, DEWA mencatat manfaat pajak penghasilan bersih Rp93 miliar pada 2025, berbalik dari beban pajak sebelumnya akibat pajak tangguhan. Skenario ini, jika berlanjut, berpotensi memperkuat arus kas perseroan dan mendukung struktur pendanaan Grup Bakrie di tengah volatilitas pasar. Dalam konteks IHSG yang berpeluang turun lebih lanjut, dinamika DEWA tetap menjadi salah satu potensi sisi positif bagi portofolio Bakrie, meski investor tetap disarankan untuk memantau volatilitas harga dan risiko terkait.