Lonjakan harga minyak sejak awal konflik Timur Tengah telah memicu kekhawatiran bahwa inflasi bisa meningkat secara luas di AS. Namun, para ekonom Standard Chartered menilai lonjakan ini bersifat satu kali dan dampaknya terhadap inflasi inti cenderung terbatas. Dengan demikian, prospek pertumbuhan masih bergantung pada bagaimana konsumsi dan investasi merespons tekanan harga energi.
Selain itu, laporan menunjukkan bahwa konsumsi energi AS telah berada pada tingkat yang relatif rendah sejak akhir 2000-an, dan pengeluaran energi sekarang menyerap bagian yang lebih kecil dari belanja rumah tangga maupun bisnis. Hal ini menyiratkan bahwa lonjakan harga energi mungkin tidak menerus ke seluruh struktur biaya secara garis besar. Para ekonom menilai dampak pada PMI, produksi industri, dan konsumsi rumah tangga tidak sebesar yang dibayangkan sebelumnya.
Model yang digunakan memperkirakan headline PCE bisa mencapai sekitar 3,1% di kuartal kedua, sementara inflasi inti kemungkinan stagnan di sekitar 3,0% year-on-year dalam beberapa waktu dekat sebelum melandai di kuartal keempat. Tingkat pengangguran juga diperkirakan naik sedikit di atas 4,5%, dengan dampak pertumbuhan yang relatif minor jika asumsi ekspektasi inflasi tetap terjaga. Prediksi ini konsisten dengan pergeseran kurva Brent sesuai data pasar berjangka.
Di sisi tenaga kerja, pelonggaran pekerjaan telah terlihat dalam dua tahun terakhir. Tekanan harga upah berkurang dan dinamika pekerjaan menunjukkan pasar yang lebih moderat dibanding periode sebelumnya. Meskipun demikian, momentum ini tidak berarti pasar tenaga kerja telah tuntas menstabilkan diri, sebab adanya variasi sektor dan kebijakan kompensasi perusahaan tetap relevan.
Secara makro, beberapa indikator fundamental menunjukkan bahwa dampak kejutan energi terhadap aktivitas ekonomi tidak bersifat dramatis seperti era sebelumnya. Model-modelnya mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan runtuh meskipun inflasi sementara meningkat. Integrasi kebijakan fiskal dan moneternya juga berperan dalam menjaga stabilitas secara keseluruhan.
Lebih luasnya kesenjangan Output saat ini berarti sebagian besar efek harga energi ditampung lewat real wages yang lebih rendah, bukan lewat lonjakan inflasi inti. Dengan kata lain, dinamika konsumsi rumah tangga dan investasi korporasi dapat menahan tekanan harga di level yang lebih luas. Ini menjadi fokus bagi para pembuat kebijakan untuk menghindari stagnasi yang terlalu lama.
Pasar keuangan mengoreksi ekspektasi pemangkasan kebijakan Fed lebih dari 50 basis poin untuk tahun ini, dan kini menilai peluang kenaikan bunga kecil sebagai respons terhadap potensi lonjakan inflasi. Pergerakan harga obligasi dan yield curve mencerminkan dinamika ketidakpastian mengenai arah kebijakan ke depan. Analisis ini menempatkan probabilitas jangka pendek pada netralitas kebijakan.
Model FRBUS menempatkan pertumbuhan negatif sebagai kompensasi terhadap risiko inflasi jangka pendek, terutama jika upah dan ekspektasi inflasi tetap terjaga bias rendah. Dengan demikian, skenario dasar lebih condong pada stabilitas kebijakan, meski risiko sisi atas tetap ada jika inflasi melonjak.
Risiko bagi kedua mandat Fed bisa lebih besar dari yang diperkirakan model, sehingga kebijakan cenderung menahan diri hingga sinyal pertumbuhan atau inflasi lebih jelas. Analisis ini disampaikan oleh Cetro Trading Insight sebagai bagian dari evaluasi pasar makro global yang komprehensif.