ENZO, singkatan dari Morenzo Abadi Perkasa Tbk, menjadi sorotan utama di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat ketika lonjakan harga mencapai 29,67% pada pukul 14.53 WIB. Pergerakan tajam ini menandai momentum positif bagi emiten yang bergerak di bidang pangan laut. Analisis pasar mencatat bahwa investor menilai potensi pertumbuhan berkat kinerja produksi dan ekspor yang terdongkrak.
ENZO dikenal sebagai emiten barang konsumen primer dengan fokus utama pada pengolahan dan distribusi hasil perikanan, terutama rajungan dan makanan laut beku. Perusahaan didirikan pada 2013 dan sejak itu menekankan integrasi proses dari pengolahan hingga distribusi ekspor. Sejarah akuisisi serta ekspansi kapasitas memperkuat posisi kompetitif ENZO di pasar global.
Produk utama ENZO terdiri dari dua kategori besar: blue swimming crab kalengan, pouch, cup, dan produk beku. Selain itu, perusahaan juga memproduksi daging kepiting pasteurisasi, lobster, cumi-cumi, gurita, sotong, udang vannamei, serta berbagai hasil perikanan lainnya. Pasar ekspor mencakup Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, Australia, negara-negara Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
Seiring ekspansi, ENZO membangun basis fasilitas yang luas dengan total 57 fasilitas terkait pengolahan dan distribusi. Rangkaian fasilitas terdiri dari dua fasilitas udang beku, 27 fasilitas produk laut beku, dua fasilitas produk rajungan, dan 20 fasilitas perikanan. Fasilitas yang lengkap mendukung kemampuan produksi serta ekspor ENZO ke pasar internasional.
Lini fasilitas memungkinkan ENZO memproduksi berbagai produk beku dan kalengan. Kegiatan usaha seperti pengolahan rajungan bisa menghasilkan produk kalengan dan kemasan cup atau pouch. Hal ini memberi daya saing harga serta kemampuan memenuhi permintaan yang beragam.
Produk beku ENZO telah dipasarkan ke luar negeri dengan fokus pada pasar Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, Australia, serta negara-negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Mayoritas ekspor berasal dari olahan rajungan, yang menjadi andalan perusahaan di pasar internasional. Dengan jaringan logistik yang luas, ENZO mampu memenuhi permintaan di berbagai zona waktu dan zona geografis.
Sesuai data Bursa Efek Indonesia per Januari 2026, pengendali ENZO adalah PT Tritunggal Sukses Investama dan Markus Silitonga. Keduanya tercatat memegang 68,56% dan 0,59% saham dari total saham terdaftar, sementara publik non-warkat memiliki sekitar 30,69%. Markus Silitonga menjabat sebagai direktur utama dan pemilik manfaat akhir.
ENZO memulai pencatatan sahamnya pada 2020 melalui IPO sebesar 392 juta saham dengan harga Rp105 per saham. Total dana yang diperoleh dari IPO sekitar Rp41,16 miliar. Kepemilikan publik ekuitas ini menambah likuiditas dan akses modal untuk ekspansi fasilitas.
Dalam satu bulan terakhir, harga saham ENZO meningkat sekitar 16,67%, sementara sejak awal 2026 melonjak sekitar 164,44%. Kenaikan ini menunjukan momentum kuat, meski investor perlu melihat faktor fundamental seperti produksi, kapasitas, dan permintaan ekspor. Analisis dari Cetro Trading Insight menunjuk bahwa sentimen pasar cukup bullish, namun prospek jangka panjang tetap bergantung pada keseimbangan supply-demand global.