
Pasangan mata uang EUR/USD terpantau melemah mendekati level 1.1575 pada sesi perdagangan hari Selasa. Penurunan ini sekaligus mengakhiri tren kenaikan beruntun yang sempat terjadi selama tiga hari sebelumnya. Pelemahan Euro terhadap Dolar AS ini dipicu oleh sikap hati-hati para pelaku pasar yang merespons meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah adanya laporan mengenai insiden keamanan di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia. Sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil tidak dikenal saat melakukan transit keluar dari selat tersebut. Insiden ini memperkeruh situasi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keengganannya untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Meningkatnya tensi geopolitik global ini secara langsung mendorong aliran dana ke aset safe-haven, terutama Dolar AS. Ketidakpastian politik luar negeri ini menjadi faktor utama yang membebani pergerakan EUR/USD dalam jangka pendek. Cetro Trading Insight menilai dinamika ini akan terus menekan Euro selama konflik di wilayah tersebut belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
Di sisi lain, tekanan terhadap mata uang Euro sedikit tertahan oleh melemahnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam waktu dekat. Rilis data ekonomi AS pekan lalu menunjukkan penurunan penjualan ritel untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir. Ditambah dengan angka pengangguran yang tidak terduga dan inflasi yang relatif jinak, pasar kini mulai meragukan agresivitas The Fed.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed bulan September kini turun menjadi 35%, dibandingkan dengan perkiraan bulan lalu yang mencapai 47%. Sentimen ini mencegah Dolar AS untuk menguat terlalu jauh dari level saat ini. Pelemahan yield obligasi AS akibat melunaknya prospek suku bunga turut memberikan ruang napas bagi mata uang tunggal Eropa tersebut.
Para analis dari Scotiabank menambahkan bahwa Euro masih memiliki daya dukung internal berkat ketahanan ekonomi kawasan Eurozone. Meskipun menghadapi tantangan dari sektor energi dan cuaca ekstrem, aktivitas ekonomi domestik Eropa terbukti cukup solid. Selain itu, menyempitnya selisih imbal hasil (yield spread) antara obligasi pemerintah zona Euro dan AS turut menjaga minat beli investor terhadap mata uang EUR.
Secara teknikal, grafik harian EUR/USD masih menunjukkan bias bullish yang moderat karena harga terkonsolidasi di atas garis rata-rata pergerakan 100 hari (Simple Moving Average/SMA-100) pada level 1.1570. Indikator Relative Strength Index (RSI-14) saat ini berada di area 62, yang mengindikasikan momentum kenaikan masih ada namun belum memasuki zona jenuh beli (overbought). Posisi harga di atas garis tengah Bollinger Band (20) juga mendukung struktur tren naik jangka menengah.
Bagi para pelaku pasar yang memantau aplikasi Cetro, area resistensi terdekat terpantau pada batas atas Bollinger Band di sekitar level 1.1642 di mana tekanan jual diperkirakan akan mulai menghadang. Jika harga gagal menembus area tersebut, EUR/USD berpotensi mengalami koreksi teknikal menuju level support terdekat.
Sebaliknya, jika tekanan turun terus berlanjut, support awal berada di level 1.1570 yang dijaga oleh SMA-100. Penembusan ke bawah level ini dapat membawa EUR/USD turun lebih jauh menuju batas tengah Bollinger Band di 1.1500, dan bahkan batas bawah di kisaran 1.1355 yang berfungsi sebagai zona permintaan (demand zone) kuat.