EURUSD bergerak di sekitar level 1.1655 pada pembukaan sesi Asia Kamis, mencatat penurunan ringan dari hari sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian seputar gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang menjadi fokus pasar. Investor menimbang dampak geopolitik terhadap likuiditas dan arus modal ke aset safe haven.
Kekhawatiran mengenai eskalasi regional didorong oleh laporan pembicaraan damai yang terganggu dan komentar pejabat Iran yang menyiratkan bahwa langkah tersebut tidak adil jika persetujuan tidak tercapai. Ketegangan ini menambah volatilitas pada pasar mata uang dan meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai alat lindung nilai. Faktor-faktor global lain, termasuk dinamika minyak, menambah keruwetan bagi arah pasangan mata uang tersebut.
Sementara itu fokus pelaku pasar beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis sebagai bagian dari kalender ekonomi, terutama CPI untuk bulan Maret. Sinyal inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi bisa menguatkan dolar AS dan memberikan tekanan tambahan pada EURUSD dalam jangka pendek. Dalam konteks ini, kebijakan moneter ECB juga menjadi katalis penting bagi arah pasangan mata uang ini.
Bank Sentral Eropa menunjukkan nada yang lebih tegas menjelang pertemuan kebijakan, sehingga pasar memperkirakan opsi kenaikan suku bunga pada rapat April sebagai kemungkinan nyata. Beberapa pejabat ECB menilai langkah kenaikan suku bunga sebagai pilihan yang hidup untuk menjaga daya tahan ekonomi terhadap tekanan inflasi yang lebih tinggi. Ekspektasi ini menambah dukungan bagi euro meskipun risiko geopolitik membayangi pasar.
Di sisi lain, pasar telah menguatkan harga untuk dua kali kenaikan suku bunga pada awal periode ini, dengan kemungkinan perluasan hingga Desember. Perubahan sikap kebijakan menandai pergeseran dari pelonggaran menuju normalisasi kebijakan yang lebih agresif, meski risiko eksternal tetap ada. Para pelaku pasar memantau sinyal dari para pengambil kebijakan untuk menilai dampaknya terhadap laju investasi dan arus modal.
Di pasar komoditas, lonjakan harga minyak akibat konflik regional meningkatkan tekanan inflasi di banyak ekonomi dan menambah tantangan bagi bank sentral. Kondisi ini memaksa pembuat kebijakan menimbang bagaimana kebijakan ECB akan menyeimbangkan antara harga dan pertumbuhan. Secara keseluruhan, sikap hawkish ECB menjadi faktor utama bagi arah EUR karena episod geopolitik memberikan risiko yang sedang berlangsung.
Data inflasi AS menjadi fokus utama karena diperkirakan CPI headline dan inti menunjukkan kenaikan pada bulan Maret. Proyeksi menunjukkan lonjakan sekitar 3.3 persen secara tahunan, melampaui angka sebelumnya yang berada di sekitar 2.4 persen. Lonjakan inflasi didorong oleh lonjakan harga minyak dan dinamika permintaan domestik yang tetap kuat.
Jika angka inflasi menunjukkan pelebaran lebih kuat dari ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan memberikan tekanan turun pada EURUSD. Pasar juga menilai dampak terhadap imbal hasil obligasi serta preferensi antara aset berisiko dengan aset lindung nilai, yang mempengaruhi aliran modal antar mata uang. Semua faktor tersebut memperkuat argumen untuk kehati-hatian pada pasangan mata uang utama tersebut.
Terakhir, nada kebijakan ECB yang lebih hawkish dan kepastian mengenai langkah langkah normalisasi suku bunga menjadi poros utama analisis. Investor menimbang bagaimana sinyal tersebut akan beriringan dengan dinamika geopolitik dan perubahan harga minyak. Secara keseluruhan, kombinasi faktor fundamental menunjukkan tekanan turun bagi EURUSD dalam jangka pendek hingga menengah.