Ketidakpastian perdagangan global menjadi faktor utama yang menekan dolar AS. Sinyal bahwa kebijakan perdagangan AS bisa bergulir ke tarif sementara meningkatkan risiko gangguan rantai pasok global, sehingga mata uang safe-haven melemah. Meski ada nada hawkish dari beberapa pejabat Federal Reserve, sentimen pasar tetap bergantung pada risiko perdagangan.
Gambaran ini juga dipicu oleh perkembangan politik perdagangan di level internasional. Sanksi dan potensi balasan tarif menciptakan tekanan pada USD dan memberi ruang bagi euro untuk menarik diri. Para pelaku pasar mencermati bagaimana dinamika tersebut memengaruhi aliran modal serta ekspektasi inflasi jangka pendek.
Di sisi euro, Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan bahwa inflasi zona euro dan kebijakan suku bunga berada pada posisi yang tepat saat ini. Komentar tersebut menambah kepercayaan pada mata uang regional dan mendukung pergerakan EURUSD. Pasar juga menantikan dua rilisan kunci: final Eurozone CPI dan pertumbuhan GDP Jerman untuk memberi arah ke depan.
Secara teknis, EURUSD menunjukkan harga kembali menanjak setelah beberapa hari terkoreksi. Pasangan ini bergerak mendekati kisaran 1.1800 pada sesi Asia, menandakan adanya rebound dari level rendah sebelumnya. Momentum bullish ini muncul meskipun data pelaku pasar dibatasi oleh faktor eksternal yang masih berisiko.
Di sisi lain, dolar AS masih rentan terhadap dinamika negosiasi dagang dan pernyataan pejabat bank sentral. Ketidakpastian ini bisa menjaga tekanan pada USD sehingga EURUSD berpotensi menguji kembali resistance sekitar 1.1850–1.1900 jika sentimen tetap didorong oleh rilis data yang positif. Namun, volatilitas tetap tinggi karena risiko kebijakan dan komentar FOMC.
Para analis menekankan perlunya kehati-hatian karena sentimen pasar bisa berubah cepat sebagai respons terhadap data ekonomi zona euro dan pernyataan pejabat Fed. Dengan konteks ini, peluang jangka pendek pada EURUSD masih ada, tetapi manajemen risiko harus menjadi prioritas.