EURJPY bergerak sedikit lebih rendah setelah sesi sebelumnya, karena pelaku pasar menahan diri menjelang data inflasi utama zona euro. Penundaan arah pasar terlihat dari kehati-hatian investor dan minimnya kejutan data. Pergerakan sekitar 182.50 pada hari Senin mencerminkan suasana wait-and-see sebelum rilis data penting di Eropa dan Jepang.
Data IFO Jerman yang dirilis lebih baik dari ekspektasi sempat memberi dukungan bagi euro, namun respons pasar tetap terbatas. IFO mencapai 88.6 pada Februari, naik dari 87.6 Januari dan melampaui perkiraan 88.4. Komponen Current Assessment dan ekspektasi juga menunjukkan perbaikan, meski belum cukup mengubah sentimen risiko.
Paruh kedua fokus pasar tetap pada laporan inflasi zona euro dan data PDB Jerman kuartal IV yang akan dirilis. Ekspektasi core HICP zona euro diperkirakan turun menjadi sekitar 2.2% YoY pada Januari, sementara headline diperkirakan stabil di 1.7%. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi jalur kebijakan ECB, dengan sebagian besar pelaku pasar memprediksi suku bunga tidak berubah sepanjang tahun ini.
Di sisi Jepang, kebijakan moneter masih dipantau ketat meski tekanan inflasi berkurang. CPI nasional Januari menunjukkan kenaikan 1.5% YoY, turun dari 2.1% pada bulan sebelumnya, sehingga menenangkan beberapa tekanan yang menuntut pengetatan lebih lanjut.
Pasar menilai bahwa proses normalisasi kebijakan masih berjalan, meskipun tanda-tanda kelanjutan pengetatan menunggu konfirmasi data. Core ukuran juga melemah, yang mendorong kehati-hatian terhadap timing langkah BoJ berikutnya.
Analis MUFG mencatat lonjakan imbal hasil obligasi Jepang jangka panjang pada Januari menarik minat beli asing, membantu stabilisasi pasar obligasi dan Yen. Bank tersebut menilai bahwa persetujuan cepat untuk anggaran fiskal 2026 dapat meningkatkan peluang pemotongan suku bunga pada pertemuan 28 April, meskipun pasar saat ini memperkirakan peluang tersebut sekitar 70%. Dengan dinamika ini, EURJPY tetap sensitif terhadap perbedaan imbal hasil antara ECB dan BoJ.
Secara umum, EURJPY tetap bergerak dalam koridor sempit karena perbedaan suku bunga antara zona euro dan Jepang menjadi faktor pendorong utama. Perbedaan ini membuat momentum menjadi sangat sensitif terhadap rilis data makro. Investor cenderung menimbang risiko dan peluang sebelum memutuskan posisi.
Jika inflasi zona euro melemah lebih lanjut, euro bisa melemah lebih dalam terhadap yen. Sebaliknya, jika sinyal dari BoJ mendukung pengetatan lebih cepat, yen bisa menguat terhadap euro. Kondisi ini menekankan pentingnya memantau data inflasi dan keputusan kebijakan untuk arah jangka pendek.
Rekomendasi perdagangan berdasarkan analisis ini adalah posisi jual pada level saat ini dengan target sekitar 181.00 dan stop di 183.50, memberi risk-reward minimal 1:1.5. Target dicapai jika tekanan harga bergerak turun melewati 181.00, sedangkan stop menahan kenaikan di atas 183.50. Perlu diingat bahwa dinamika inflasi dan kebijakan bisa mengubah arah dengan cepat, sehingga manajemen risiko tetap krusial.