
Laporan terbaru dari Cetro Trading Insight mencatat bahwa perdagangan ritel zona euro menunjukkan pertumbuhan yang moderat meskipun ada tekanan biaya. Data Maret menunjukkan ritel turun 0,1% secara bulanan, sedangkan penjualan ritel di tingkat UE meningkat 0,3%. Efeknya, momentum jangka pendek terlihat campuran, menandakan pergeseran tetap lemah di beberapa negara kunci.
Pada basis tahunan, volume ritel zona euro naik 1,2% dan UE 1,9%, mencerminkan fondasi positif yang terbatas meski berada dalam jalur pemulihan. Perbaikan ini menandai stabilitas permintaan konsumen meski tantangan biaya hidup masih membayangi rumah tangga.
Dengan dinamika fiskal yang membentang, analis menilai bahwa risiko fiskal Eropa serta risiko politik di Inggris bisa membatasi reli pasar obligasi dan mempengaruhi pergerakan EUR/USD. Pembelajaran dari data ritel menekankan pentingnya kebijakan propertu dan konsumen bagi irama pertumbuhan zona euro.
Data April menunjukkan perburukan aktivitas konstruksi di Zona Euro; PMI konstruksi turun menjadi 41,7 dari 44,6 bulan sebelumnya, menandai kontraksi paling tajam sejak Agustus 2024. Penurunan ini menyoroti melambatnya proses pembangunan dan belanja modal publik maupun swasta.
Biaya input yang meningkat, terutama energi, menambah tekanan pada proyek konstruksi dan mengompromikan margin bagi kontraktor. Tekanan biaya ini berpotensi memperpanjang periode kelesuan sektor tersebut meskipun beberapa proyek infrastruktur tetap berjalan.
Kondisi ini menambah kekhawatiran atas prospek pertumbuhan sektor real estat dan belanja modal, karena konstruksi adalah salah satu mesin penggerak aktivitas ekonomi. Investor perlu memantau dampak rencana fiskal terhadap biaya pembiayaan dan proyek-proyek baru.
BNYs Geoff Yu menyoroti adanya risiko fiskal di Eropa yang dapat menguji reli obligasi dan memengaruhi dinamika EUR/USD. Pergerakan imbal hasil bisa lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan fiskal maupun peluang pembiayaan pemerintah.
Pemilu lokal di Inggris, di mana Labour mengalami kekalahan signifikan dengan kehilangan lebih dari 2.000 kursi dewan, bisa mempercepat dorongan untuk belanja fiskal guna meredam biaya hidup. Hal ini berpotensi mengubah lanskap kebijakan fiskal dan volatilitas pasar, termasuk EUR/USD.
Dalam konteks ini, pasar cenderung berhati-hati karena faktor fiskal dan politik dapat memicu volatilitas, meski tidak ada arahan jelas untuk arah jangka pendek. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk menilai bagaimana pola pemilihan di negara anggota dapat membentuk suku bunga dan nilai tukar.