
Analisis dari Bernd Weidensteiner di Commerzbank menunjukkan bahwa Fed diperkirakan akan mempertahankan kebijakan pada kisaran 3,50-3,75 persen pada pertemuan mendatang. Proyeksi ini didorong oleh harapan bahwa Core PCE Price Index perlahan melunak menuju jalur 2%, sehingga pengetatan tambahan bisa dihindari. Keterangan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca setia kami.
Meskipun muncul pembahasan mengenai kenaikan jika inflasi gagal melunak, basis skema tetap menampilkan penahanan suku bunga sebagai opsi utama. Pasar cenderung mempertahankan ekspektasi stabilitas kebijakan dalam beberapa rapat ke depan sambil memantau data inflasi. Analisis ini menekankan bahwa dinamika permintaan dan biaya produksi tetap menjadi penentu arah kebijakan selanjutnya.
Seandainya inflasi inti menuju jalur 2%, otoritas moneter bisa menghindari langkah pelonggaran lebih agresif dan malah mempertimbangkan pemotongan pada pertengahan 2027. Namun peningkatan harga minyak akibat gejolak global menambah risiko terhadap jalur inflasi dan memicu tekanan pada prospek kebijakan. Para analis menekankan bahwa perjalanan menuju target 2% kemungkinan memakan waktu hingga 2027.
Kenaikan harga minyak akibat eskalasi di Teluk Persia telah mendorong lonjakan harga energi secara signifikan. Dampaknya terlihat pada biaya transportasi dan input produksi yang lebih tinggi bagi banyak sektor, terutama bagi perusahaan yang sensitif terhadap harga energi. Kondisi ini menambah beban pada rumah tangga dan menambah tantangan bagi perusahaan untuk meraih margin.
Meskipun inflasi inti terlihat stabil, lonjakan minyak bisa menunda penurunan inflasi secara keseluruhan selama musim panas dan meningkatkan risiko efek berulang. Proyeksi ini membuat pasar berhati-hati terhadap potensi perubahan kebijakan di paruh kedua tahun. Analisis ini menekankan bahwa kejutan pada sektor energi dapat mengubah tempo penilaian bank sentral.
Secara garis besar, proyeksi bahwa inflasi 2% tercapai hanya pada musim semi 2027 menunjukkan bahwa kebijakan moneter masih berada di fase evaluasi. Hal ini membantu pelaku pasar menyeimbangkan risiko terhadap pertumbuhan dan hutang yang beredar. Di sisi lain, dinamika harga minyak bisa memperlambat laju penurunan inflasi, sehingga alokasi kebijakan bisa lebih lambat dari ekspektasi.
Pelaku pasar terus menimbang kemungkinan kejutan kebijakan dan potensi kenaikan di paruh kedua tahun jika tren inflasi kembali menunjukkan tekanan. Variasi data inflasi, suku bunga jangka panjang, dan nilai tukar akan membentuk arah pergerakan pasar dalam beberapa bulan ke depan. Para trader perlu mengatur ekspektasi terkait volatilitas yang mungkin meningkat saat data ekonomi dirilis.
Fed cenderung mempertahankan suku bunga utama pada pertemuan berikutnya sambil menilai sinyal inflasi dan dinamika harga minyak. Keputusan tersebut akan bergantung pada bagaimana inflasi terkait inti dan tajuk inflasi berkembang pada data mendatang. Risiko terhadap jalur kebijakan muncul jika inflasi turun lebih lambat dari perkiraan atau jika harga energi tetap tertinggal.
Meski jalur pemangkasan mulai 2027 tetap terbuka, volatilitas harga minyak dan variasi tren inflasi global menjadi faktor utama yang bisa mengubah kecepatan transisi kebijakan. Pelaku pasar disarankan menjaga manajemen risiko dan meninjau ulang strategi trading secara berkala. Semua analisis dalam laporan ini disusun untuk pembaca Cetro Trading Insight.