Analisis terbaru dari John Velis, strategist di BNY Mellon, menyoroti ekspektasi Fed untuk menahan suku bunga pada rapat FOMC mendatang. Ia menilai kebijakan akan disertai arahan ke depan yang terbatas karena adanya ketidakpastian seputar laju inflasi dan konflik di Iran. Pasar juga terlihat tidak banyak menilai perubahan suku bunga dalam beberapa tahun ke depan, dengan harga pasar mengindikasikan sedikit pergerakan melalui 2027 dan ekspektasi inflasi yang relatif terjaga.
Velis menegaskan bahwa latar belakang ini bisa memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga saat kondisi tenaga kerja melemah. Dalam skenario tersebut, penurunan bisa terjadi pada akhir 2026, asalkan dinamika pasar tenaga kerja memburuk dari situasi saat ini yang cenderung stagnan.
Rangkuman utama adalah bahwa rapat FOMC mendatang kemungkinan besar akan berjalan tanpa perubahan kebijakan besar, dan arahan ke depan sangat terbatas karena ketidakpastian inflasi serta situasi geopolitik yang sedang berkembang.
Konflik di Iran dan penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz telah menambah lapisan ketidakpastian bagi para investor. Meskipun demikian, para analis melihat bahwa pasar belum membentuk inflasi yang berlanjut akibat dinamika di wilayah tersebut. Hal ini memberi Fed peluang untuk menjaga kesan inflasi jangka pendek lebih lunak dan berpotensi memodulasi ekspektasi inflasi di masa-masa awal.
Ketika kemungkinan pembukaan kembali jalur dagang Hormuz terjadi, para pelaku pasar memperkirakan ekspektasi inflasi jangka pendek dapat bergerak lebih rendah lagi. Dengan demikian, ruang bagi bank sentral untuk melakukan pemotongan suku bunga di akhir 2026 bisa lebih terbuka jika situasi tenaga kerja memburuk.
Sejumlah analis juga menunjukkan bahwa transisi kebijakan yang dikaitkan dengan nama Warsh tidak diharapkan membawa perubahan kebijakan yang signifikan dalam waktu dekat selama konflik Iran berlanjut. Beberapa pihak juga menyatakan bahwa dua pemotongan di Q4 2026 tetap sebagai skenario utama, asalkan pembukaan Selat Hormuz terwujud.
Seorang analis kunci menegaskan bahwa selama ketidakpastian geopolitik berlanjut, arah kebijakan Fed kemungkinan akan tetap cermat dan materi arahan ke depan akan relatif terbatas. Penilaian ini selaras dengan pandangan bahwa tidak ada dorongan untuk perubahan kebijakan besar dalam waktu dekat.
Postur kebijakan yang berhati-hati menambah dimensi bagi pelaku pasar dalam menilai risiko dan skenario jangka menengah. Investor diminta memantau dinamika inflasi, perkembangan geopolitik, serta progres pembukaan jalur logistik untuk memahami kemungkinan lintasan suku bunga di masa mendatang.
Untuk trader dan investor, pesan utama adalah menjaga manajemen risiko yang ketat sambil menimbang skenario dual pemotongan di Q4 2026 bila syarat pembukaan Hormuz terpenuhi. Karena informasi masih terbatas, fokus pada pembangunan kasus yang berimbang dan profil risiko tetap menjadi pendekatan yang bijaksana.