Dalam pernyataan di Economic Club of Kansas City, Jeffrey Schmid menegaskan pilihannya untuk menjaga kebijakan moneter tetap agak ketat. Ia berargumen bahwa pemotongan suku bunga berpotensi memperburuk inflasi jika tidak diiringi pemulihan yang berkelanjutan pada pasar tenaga kerja. Pendekatan ini mencerminkan fokus pada stabilitas harga sebagai prioritas utama kebijakan.
Schmid menilai bahwa posisi kebijakan saat ini tidak terlalu ketat, namun tetap memberi ruang bagi momentum ekonomi untuk menjaga keseimbangan. Ia menegaskan bahwa respons kebijakan harus sejalan dengan sinyal data tanpa mengabaikan risiko inflasi. Pesan ini menegaskan kebutuhan kehati-hatian dalam menimbang setiap langkah pelonggaran.
Analisisnya menekankan bahwa tekanan pada pasar tenaga kerja bersifat struktural dan tidak akan terselesaikan hanya melalui pemotongan suku bunga. Kebijakan fiskal, deregulasi, dan kebijakan pajak diyakini bisa mendorong investasi jangka panjang serta ekspansi permintaan secara lebih berkelanjutan. Dengan demikian, fokus utama adalah menjaga stabilitas harga sambil mendorong reformasi pendukung.
Kontak bisnis di berbagai sektor melihat inflasi sebagai kekhawatiran terbesarnya. Ketidakpastian harga dan tekanan biaya menjadi tema berulang yang mempengaruhi keputusan investasi serta rencana ekspansi. Para pelaku pasar menilai bahwa inflasi tetap menjadi variabel penentu bagi prospek ekonomi jangka menengah.
Data Desember menunjukkan inflasi mendekati tingkat tiga persen, sesuai dengan gambaran umum yang diamati. Angka ini memperkuat argumen untuk menjaga kebijakan yang lebih restriktif daripada melonggarkan secara agresif. Pelaku pasar menantikan respons kebijakan fiskal dan reformasi regulasi sebagai faktor penentu arah pasar.
Selain itu, tekanan pada tenaga kerja dipandang sebagai masalah struktural yang tidak mudah diatasi hanya melalui perubahan suku bunga. Inflasi tetap menjadi variabel utama yang perlu diawasi, sementara dinamika permintaan domestik dan upah menjadi bagian dari penilaian kebijakan. Secara keseluruhan, pandangan kontak bisnis menekankan kehati-hatian terhadap risiko inflasi.
Beberapa langkah kebijakan yang berpotensi meningkatkan investasi meliputi perubahan pajak dan upaya deregulasi. Pembuat kebijakan dipandang dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif melalui penyederhanaan regulasi dan insentif fiskal. Langkah ini diharapkan untuk merangsang aktivitas modal dan memperluas peluang ekspansi bagi sektor swasta.
Selain itu, reformasi fiskal bisa memperkuat pengeluaran dan permintaan agregat. Pelaku pasar melihat sinyal bahwa reformasi struktural akan mendukung pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas harga. Namun keseimbangan antara pertumbuhan dan kontrol inflasi tetap menjadi pertimbangan penting bagi kebijakan ke depan.
Secara keseluruhan, pandangan ini menekankan bahwa reformasi kebijakan bisa menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan jangka panjang. Di sisi lain, kebijakan moneter tetap menjadi variabel penting yang perlu disesuaikan dengan kondisi inflasi dan pasar tenaga kerja. Investor disarankan memantau dinamika fiskal dan reformasi regulasi sebagai indikator arah ekonomi.