Ringkasan FOMC minutes menunjukkan bahwa para pejabat Federal Reserve terbagi mengenai arah kebijakan, meskipun mayoritas lebih fokus pada dinamika tenaga kerja AS daripada inflasi. Banyak pejabat menilai perlu tetap lincah dalam menimbang dampak dari beberapa risiko yang ada. Komentar tersebut mencerminkan pendirian bahwa jalur kebijakan bisa berubah seiring data akan datang.
Beberapa pejabat menilai pemotongan lebih lanjut tepat bila inflasi turun sesuai ekspektasi, sementara yang lain menunda karena angka inflasi terbaru. Ada juga pernyataan yang menekankan kemungkinan menghadirkan kebijakan dua arah dalam pernyataan kebijakan untuk menjaga opsi kenaikan suku bunga tetap terbuka jika diperlukan.
Kelompok mayoritas mengakui risiko inflasi di sisi atas dan risiko tenaga kerja di sisi bawah yang lebih tinggi, sementara mayoritas lainnya menyoroti bagaimana konflik di Timur Tengah bisa memperbesar risiko tersebut. Laporan menunjukkan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan bisa melemah tenaga kerja dan memicu pemangkasan, sementara harga minyak yang lebih tinggi bisa menjaga inflasi tetap tinggi dan mungkin memerlukan kenaikan suku bunga untuk menahan ekspektasi pasar.
UOB mempertahankan proyeksi mereka tentang jeda kebijakan melalui April, diikuti dua pemangkasan pada Juni dan kuartal ketiga 2026, menambah target FFTR menjadi 3,25% pada akhir 2026. Proyeksi ini menggambarkan jalur normalisasi bertahap dan respons terhadap dinamika ekonomi yang tidak pasti. Para pelaku pasar akan memantau data inflasi dan tenaga kerja untuk menguji skenario tersebut.
Dalam konteks pertemuan Fed, para trader perlu waspada terhadap risiko keterlambatan pemotongan lebih lanjut atau tantangan pemotongan pada paruh kedua jika harga energi tetap tinggi akibat konflik. Kondisi geopolitik menambah volatilitas pada pasar energi dan aset berisiko.
Secara keseluruhan, analisis UOB menekankan bahwa jalur pengetatan kebijakan bisa berlanjut secara bertahap dengan fokus pada stabilisasi inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja. Ketidakpastian geopolitik menambah risiko pada proyeksi dan menciptakan peluang bagi investor untuk menilai ulang ekspektasi suku bunga di masa depan.