
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberi gambaran singkat mengenai arah kebijakan Federal Reserve AS terkait suku bunga, inflasi, dan dinamika pasar. Analisis ini menyoroti bagaimana inflasi PCE, kondisi pasar tenaga kerja, dan faktor geopolitik bisa membentuk jalur kebijakan ke depan. Pemaparan ini ditujukan untuk pembaca awam namun tetap akurat secara analitis.
Para analis Bernd Weidensteiner dan Christoph Balz menilai pertemuan pertama era Warsh di Federal Reserve kemungkinan besar tidak akan menghasilkan pemotongan suku bunga secara langsung. Mereka menilai bahwa inflasi PCE tetap tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja masih terjaga kuat. Dengan demikian, sinyal kebijakan yang terlalu longgar tidak akan muncul dalam waktu dekat.
Deflator PCE April sekitar 3.8 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, menambah beban bagi upaya pelonggaran kebijakan. Inflasi masih berada di atas target 2 persen dan cenderung menjauh dari sasaran tersebut. Karena itu, pemotongan suku bunga hanya akan dipertimbangkan jika kedua tujuan kebijakan bisa terpenuhi secara bersamaan.
Warsh cenderung tidak menekankan sinyal pergerakan masa depan secara eksplisit. Ia bisa setuju untuk menghapus frasa easing bias meskipun tidak membagi argumen kebijakan secara mendalam. Pemangkasan baru diproyeksikan muncul perlahan mulai pertengahan tahun depan jika tekanan inflasi berkurang.
Pasar tenaga kerja telah pulih dari perlambatan musim gugur lalu. Pada periode itu pengangguran naik menjadi 4.6 persen, yang kemudian mendorong langkah pemotongan suku bunga sebanyak tiga kali oleh The Fed. Pemulihan pekerjaan menjadi pilar utama dalam menilai kemampuan kebijakan pelonggaran di masa depan.
Warsh menilai perlunya menghapus wording easing bias meskipun tidak sepakat dengan argumen kebijakan mendasarnya. Ia bisa menerima langkah penghapusan jika itu menenangkan volatilitas kebijakan tanpa mengubah argumen fundamental. Meskipun demikian, pandangan mayoritas FOMC tetap berhati-hati terhadap tekanan inflasi yang masih ada.
Pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa pemangkasan jangka pendek bukan prioritas utama, dengan proyeksi awal menunjukan pemangkasan mulai pertengahan tahun depan. Tarifan, tarif, dan biaya energi kemungkinan akan mereda ketika konflik di Teluk Persia mereda serta harga minyak menurun. Selain itu, kemajuan AI diperkirakan meningkatkan produktivitas sehingga membantu pertumbuhan tanpa menambah tekanan inflasi secara besar.
Analisis menunjukkan bahwa kebijakan pelonggaran kemungkinan dimulai secara bertahap sekitar pertengahan tahun depan, dengan total pemangkasan sekitar 75 basis poin hingga akhir 2027 asalkan inflasi turun dan tekanan geopolitik mereda. Skema ini mengasumsikan bahwa faktor harga energi tidak lagi menghambat laju kebijakan secara signifikan. Investor perlu memahami bahwa jalur ini bisa berubah bila data ekonomi berubah.
Faktor geopolitik seperti konflik di Teluk Persia dan pergerakan harga minyak dapat mempengaruhi laju inflasi serta keputusan kebijakan. Penurunan harga minyak bisa mempercepat pemangkasan jika inflasi turun dan pasar tenaga kerja tetap sehat. Oleh karena itu, pemantauan harga energi dan arah kebijakan fiskal menjadi kunci dalam menilai peluang di pasar obligasi, saham, dan instrumen turun-naik lainnya.
Di sisi lain, kemunculan AI dan peningkatan produktivitas bisa memperkuat argumen untuk pemangkasan bertahap. Namun inflasi masih berada jauh dari target, sehingga konfirmasi data ekonomi ke depan diperlukan sebelum sinyal kebijakan menjadi pasti. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika kebijakan tanpa terjebak pada spekulasi semata.