
Di tengah dinamika energi, Fitch menegaskan kapasitas terpasang DCII diperkirakan melonjak dari sekitar 128 MW pada 2025 menjadi lebih dari 850 MW dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Perubahan skenario ini berpotensi mengubah lanskap pendapatan perseroan dalam jangka menengah. Menurut Cetro Trading Insight, lonjakan kapasitas adalah sinyal utama bagi investor untuk mengamati pergerakan arus kas perusahaan.
Kapasitas terpasang yang besar diperkokoh oleh kontrak jangka panjang dengan pelanggan berkualitas, sehingga tingkat keterisian tetap tinggi. Fitch mencatat rasio contracted-to-shell capacity melampaui 90 persen, menunjukkan kemampuan DCII mengamankan pendapatan lewat kontrak berjangka. Kondisi ini meningkatkan visibilitas arus kas dan memperkuat profil kredit perseroan.
Fitch juga menilai kemampuan eksekusi proyek dan pengelolaan neraca yang disiplin sebagai pilar utama stabilitas finansial. Dalam pandangan mereka, arus kas yang kuat memberi fleksibilitas bagi DCII untuk menjaga profil kredit seiring kapasitas tumbuh. Cetro melihat kombinasi kapasitas besar, kontrak panjang, dan manajemen risiko keuangan sebagai faktor kunci bagi prospek jangka menengah perusahaan.
Pembiayaan DCII masih sangat bergantung pada pinjaman perbankan domestik, meskipun ada upaya diversifikasi fasilitas. Fitch menyoroti tambahan fasilitas investasi senilai Rp17 triliun yang diperoleh dari BBCA dan BMRI, yang meningkatkan likuiditas untuk belanja modal. Langkah ini menandai sinergi antara kebutuhan ekspansi dan dukungan lembaga keuangan domestik.
Rencana belanja modal mencapai Rp10-15 triliun per tahun sepanjang 2026-2027, difokuskan pada peningkatan kapasitas dan efisiensi operasional. Ekspansi melalui utang menambah beban finansial, tetapi juga mengubah potensi pendapatan beroperasi seiring berjalannya waktu. Manajemen perlu menjaga keseimbangan antara funding dan kinerja operasional untuk menjaga stabilitas neraca.
Fitch memperkirakan EBITDA net leverage DCII akan naik dari sekitar 1x pada 2025 menjadi sekitar 5,5-6x pada 2026, sebelum turun mendekati 4x pada 2027 ketika kapasitas baru mulai beroperasi dan pendapatan meningkat. Pergerakan leverage ini mencerminkan risiko pembiayaan ekspansi tetapi juga potensi pendapatan tambahan dari kapasitas baru. Jika kontrak penyewa baru memadai, dinamika ini bisa diimbangi sehingga profil kredit tetap sehat.
Tekanan jatuh tempo utang baru diperkirakan mulai terasa secara signifikan pada 2029, menurut penilaian Fitch. Hal ini menjadi fokus manajemen karena kesiapan pendanaan jangka panjang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas keuangan. Cetro Trading Insight menilai fase ini sebagai ujian utama bagi kualitas arus kas DCII di masa mendatang.
Ekspansi yang didanai utang berpotensi meningkatkan leverage di atas level 5,5x jika kontrak penyewa baru tidak memadai untuk menutupi biaya capex. Risiko ini menuntut tindakan tepat seperti diversifikasi portofolio pelanggan atau peninjauan ulang struktur pembiayaan. Namun, jika ekspansi didukung oleh kontrak baru yang kuat, leverage bisa tetap terkendali.
Sebagai imbal balik, peluang kenaikan peringkat terbuka jika DCII mampu memperbesar skala bisnis secara signifikan sambil menjaga EBITDA net leverage di bawah 4,5x. Kinerja operasional yang konsisten dan kemampuan menjaga rasio utang terhadap EBITDA akan menjadi kunci. Dalam skenario positif, peningkatan rating didorong oleh pertumbuhan kapasitas yang berkelanjutan dan arus kas yang stabil.