FX Asia Menguat Didukung De-Eskalasi Timur Tengah: Fokus pada CNY, MYR, SGD

trading sekarang

Menurut analisis MUFG oleh Lloyd Chan, penurunan ketegangan di Timur Tengah telah mendukung mata uang Asia menahan tekanan dolar AS. Perkembangan ini menambah konteks bagi para pelaku pasar bahwa sentimen risiko telah membaik dan bahwa likuiditas regional bisa membaik seiring waktu. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight dan menempatkan fokus pada arah arus uang di kawasan ini.

Para analis menilai bahwa deeskalasi lebih lanjut bisa memperpanjang tren penguatan terhadap dolar bagi sejumlah mata uang Asia. Secara garis besar, CNY, MYR, dan SGD berada pada jarak teknikal yang mendukung potensi lanjutan upside ketika faktor fundamental tetap membaik. Meski demikian, volatilitas tetap ada karena dinamika geopolitik dapat berubah dengan cepat.

Di antara pasangan rupiah, arah USD/IDR tampak memiliki risiko terbatas karena langkah BI stabilisasi, seperti pembatasan pembelian USD tanpa dokumen. Pasar juga menilai bahwa pasar komoditas non-energi masih di bawah penilaian, yang menyiratkan tailwind bagi ekspor Indonesia serta daya dukung terhadap kinerja IDR secara keseluruhan.

Chan menyatakan pandangan konstruktif terhadap CNY, MYR, dan SGD, karena kedudukan fundamental dan struktur teknikal menunjuk arah yang lebih kuat terhadap dolar. Penutupan data menunjukkan kekuatan relatif terhadap USD telah membaik dalam beberapa minggu terakhir, dengan dinamika aliran modal yang mendukung.

Ringgit diperkirakan akan "catch up" terhadap kekuatan CNY, sehingga potensi pelemahan dolar terhadap MYR bisa berlanjut. Dalam konteks kebijakan, pernyataan bahwa BNM kemungkinan mempertahankan suku bunga di 2.75% menambah sentimen stabil bagi MYR. Para pelaku pasar menilai bahwa jika CNY melanjutkan ekuitasnya, MYR bisa memanfaatkan sinyal tersebut.

Di sisi teknikal, pasangan terkait USD/MYR belum menunjukkan sinyal agresif untuk perubahan besar, sementara USD/IDR menunjukkan langkah stabilisasi saat BI menyesuaikan kebijakan pembelian USD.

Pertemuan Bank Negara Malaysia (BNM) diperkirakan tidak mengejutkan pasar karena keputusan suku bunga kemungkinan ditahan pada 2.75%, menambah kehendak pasar untuk menghindari fluktuasi tidak perlu pada MYR.

Bank Indonesia telah meningkatkan langkah stabilisasi dengan membatasi pembelian USD tanpa dokumen pendukung menjadi $25.000, turun dari $50.000 sebelumnya. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengekang aktivitas spekulatif dan menjaga stabilitas arus modal masuk yang berpotensi memicu volatilitas.

Secara keseluruhan, dinamika harga komoditas non-energi dan rekomendasi kebijakan regional menambah tantangan dan peluang bagi mata uang Asia. Jika eskalasi Timur Tengah mereda lebih lanjut, kami melihat potensi tambahan bagi kinerja FX Asia terhadap dolar dengan fokus utama pada CNY, MYR, dan SGD.

banner footer