Garuda Indonesia mencatat kerugian besar pada 2025, mencapai USD319,39 juta. Angka tersebut melampaui proyeksi sebelumnya dan mengguncang persepsi investor terhadap kinerja maskapai nasional. Kondisi ini menyoroti tekanan operasional dan dinamika pasar yang belum pulih sepenuhnya.
Pendapatan usaha turun 8,4 persen dari USD2,74 miliar menjadi USD2,51 miliar. Sementara itu, pendapatan konsolidasi juga turun 5,9 persen menjadi USD3,22 miliar. Penurunan ini dipicu kombinasi penurunan permintaan dan tantangan biaya. Garuda tetap mencatat beberapa beban menurun, seperti operasional dan biaya pelayanan penumpang.
Beban operasional turun menjadi USD1,54 miliar dari USD1,67 miliar, namun beban pemeliharaan dan perbaikan naik signifikan menjadi USD661 juta. Beban tiket, penjualan dan promosi naik menjadi USD192 juta. Ketidakselarasan antara biaya yang turun dan beban penting lainnya memperlihatkan perlunya restrukturisasi biaya bagi pemulihan.
Beban pemeliharaan meningkat mengindikasikan investasi untuk menjaga armada tetap siap beroperasi. Sementara beban lain seperti operasional dan administrasi menunjukkan penurunan, beberapa biaya tetap perlu dipantau untuk menjaga likuiditas. Tren ini menandai perlunya penataan ulang biaya secara menyeluruh.
Kas dan setara kas berhasil melonjak dari USD219,1 juta pada 2024 menjadi USD943,4 juta pada 2025. Lonjakan ini meningkatkan headroom untuk mendanai program pemulihan dan menjaga kelangsungan operasional. Meski demikian, arus kas operasional tetap perlu diawasi karena beban eksplisit masih tinggi.
Secara keseluruhan, peningkatan likuiditas memberi fleksibilitas meskipun laba bersih belum membaik dalam jangka pendek. Investor perlu menilai rencana restrukturisasi dan langkah efisiensi biaya. Cetro Trading Insight memantau bagaimana rencana tersebut mempengaruhi kinerja keuangan.
Prospek ke depan bergantung pada kemampuan Garuda menekan biaya sambil menstabilkan permintaan domestik dan internasional. Perbaikan efisiensi operasional menjadi prasyarat utama untuk memulihkan profitabilitas. Peluang pemulihan bergantung pada gearing keuangan dan kemampuan manajemen menjaga kapal-kapal tetap berlayar.
Investor perlu memantau kebijakan pembiayaan, alokasi modal, dan restrukturisasi rute serta layanan. Efektivitas pemeliharaan, penetapan harga tiket, dan promosi akan menjadi indikator utama suksesnya pemulihan. Proses restrukturisasi yang konsisten akan memperbaiki neraca dan arus kas.
Menurut Cetro Trading Insight, kunci bagi investor adalah mengikuti laporan keuangan berikutnya untuk melihat progres nyata. Meski laporan 2025 membawa kekhawatiran, likuiditas yang memadai memberi peluang bagi pemulihan bertahap. Untuk itu, fokus analitis pada biaya pemeliharaan, biaya operasional, dan arus kas menjadi krusial.