GBP/JPY bergerak naik mendekati 212,40 pada sesi Asia, mencerminkan lemahnya yen terhadap mata uang utama. Pasangan ini sempat menyentuh 212,45 saat para investor menimbang dampak pengumuman politik mendadak di Jepang terhadap ekspektasi kebijakan. Analisis pasar menunjukkan pergerakan ini juga dipengaruhi oleh sentimen risiko yang membaik dan korelasi positif antara yen yang melemah dengan risiko appetite di kalangan trader.
BoJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada 0,75% saat pengumuman kebijakan pada Jumat. Meski kebijakan tampak tidak berubah, pasar menilai adanya tekanan inflasi fiskal yang bisa memicu pengetatan di masa depan. Ekspektasi tersebut menjaga volatilitas GBP/JPY tetap tinggi menjelang rilis data moneter dan data ekonomi Jepang yang terkait.
Investors menantikan data tenaga kerja dan inflasi Inggris untuk menilai arah pasangan ini lebih lanjut. Laporan tenaga kerja ILO diperkirakan turun menjadi 5,0% dari 5,1% untuk tiga bulan hingga Oktober, sebuah dinamika yang biasanya mengurangi risiko pemangkasan suku bunga BoE dalam waktu dekat. Sementara itu, pasar juga akan menanti rilis Indeks Harga Konsumen Inggris pada Desember untuk gambaran tekanan harga domestik.
Minggu ini BoJ akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya yang pertama tahun ini pada hari Jumat, dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di 0,75%. Pembuat kebijakan juga diharapkan menjaga kebijakan fiskal yang tidak terlalu ketat, dengan dinamika inflasi yang berpotensi memicu peninjauan ulang langkah kebijakan di masa depan. Perkembangan ini membuat GBP/JPY tetap berada pada awan volatilitas yang cukup tinggi.
Para analis menilai BoJ mungkin membuka pintu untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut jika tekanan inflasi berlanjut, meskipun ketidakpastian tetap ada. Instrumen ini bisa menciptakan perbedaan suku bunga antara Jepang dan Inggris yang lebih besar, sehingga memengaruhi carry trades. Investor juga mempertimbangkan implikasi kebijakan BoJ terhadap pasangan GBP/JPY dalam konteks kebijakan BoE yang masih menahan atau menurunkan suku bunga secara relatif.
Di sisi lain, meski pound diperdagangkan sedikit lebih tinggi terhadap yen, kinerja GBP secara umum tertekan menjelang data tenaga kerja dan inflasi Inggris. Pergerakan ini menambah dimensi bahwa meski yen melemah, faktor domestik Inggris bisa mengimbangi jika data menunjukkan dinamika yang berbeda. Secara keseluruhan, dinamika kebijakan BoJ dan pergerakan GBP di pasar valuta asing menjaga pasangan ini tetap sensitif terhadap kejutan data asing.