Menurut Cetro Trading Insight, GBP/JPY berada dalam kisaran mingguan yang relatif sempit, diperdagangkan sekitar level 210.70. Pergerakan ini mencerminkan dominasi faktor fundamental yang membentuk arah jangka menengah, meskipun ada beberapa sinyal teknikal yang menunjukkan peluang breakout bila level kunci terlampaui. Pasar juga menunjukkan minat yang cukup kuat untuk menilai arah kebijakan suku bunga bank-bank utama di masa depan.
Konsolidasi di sekitar level tersebut mencerminkan respons investor terhadap pernyataan kebijakan bank sentral dan dinamika suku bunga yang berbeda antara BoE dan BoJ. Di samping itu, kenaikan harga minyak yang didorong oleh ketegangan geopolitik menambah volatilitas, membuat pedagang menahan arah jangka pendek sambil menunggu konfirmasi breakout. Secara umum, struktur pasar menunjukkan peluang trading jika arah breakout terkonfirmasi dengan bukti tertentu di grafik harian.
Secara teknikal, fokus tetap pada level-level pivot mingguan dan potensi terobosan di atas 211.0 atau di bawah 210.0. Trader disarankan menunggu konfirmasi dari indikator momentum dan volatilitas sebelum mengambil posisi, sambil memasang stop loss yang proporsional untuk membatasi risiko. Dalam konteks ini, pembacaan harga saat ini masih mengarah ke prospek bullish jangka pendek jika tekanan bullish berlanjut.
Pasar menilai bahwa ekspektasi pemotongan suku bunga BoE untuk bulan Maret mengalami penurunan, dengan probabilitas sekitar 20–30 persen setelah meningkatnya ketegangan regional. Hal ini berarti penataan kebijakan moneternya lebih berhati-hati, dan pedagang memperhitungkan dampak perubahan suku bunga terhadap pasangan GBP/JPY. Selain itu, pasar juga mengurangi harga untuk dua potensi pemotongan pada 2026 dan menilai bahwa kemungkinan pemotongan tunggal di akhir tahun lebih kecil dari sebelumnya.
Di sisi BoJ, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga berikutnya juga tertunda karena respons kebijakan terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap pertumbuhan ekonomi. Yen yang relatif melemah menambah beban biaya impor bagi Jepang, sehingga kebijakan lebih condong ke penyangga kestabilan harga daripada eksplorasi perubahan nilai tukar secara agresif. Para analis mencatat bahwa jalur kebijakan BoJ tetap tidak pasti dalam beberapa bulan ke depan.
Kesenjangan pendapat di antara para pakar, termasuk pandangan Seisaku Kameda, menambah dinamika pasar: jika konflik berlanjut, penundaan kenaikan hingga Juni atau Juli bisa terjadi; jika situasi mereda lebih cepat, kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih awal. Otoritas Jepang juga menekankan fokus pada kestabilan harga, bukan manipulasi nilai tukar, yang menambah arah kebijakan yang berhati-hati di tengah volatilitas harga energi.
Rising oil prices akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran telah menambah kekhawatiran inflasi global dan membuat pelaku pasar mempertimbangkan kelayakan penyesuaian suku bunga di masa depan. Pergerakan harga minyak yang lebih tinggi cenderung memperkuat argumen bagi bank sentral untuk menjaga kebijakan yang lebih restriktif guna menahan tekanan inflasi. Sinyal ini mempengaruhi preferensi risiko di pasar valuta asing, termasuk pasangan GBPJPY.
Perluasan risiko pasokan melalui Selat Hormuz menambah premi risiko geopolitik pada pasar energi global. Ketidakpastian ini mendorong volatilitas harga minyak dan mempengaruhi keputusan investasi di aset berisiko, termasuk mata uang utama. Pedagang harus mempertimbangkan dampak jangka menengah dari biaya energi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama di negara dengan defisit akun berjalan.
Dinamika geopolitik dan harga minyak akan tetap menjadi fokus utama bagi trader GBPJPY. Meski sentimen umum cenderung sensitif terhadap perubahan kebijakan bank sentral, perkembangan di wilayah energi dapat memperkuat atau menahan tren saat ini. Cetro Trading Insight merekomendasikan pemantauan data ekonomi dan pernyataan otoritas moneter untuk menilai potensi arah pasangan ini dalam beberapa minggu ke depan.