Poundsterling menghadapi tekanan tipis menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Inggris untuk Februari. Pasar menantikan angka inti CPI yang diproyeksikan tetap kuat di 3.1% secara tahunan. Sinyal inflasi yang stabil menambah ekspektasi bahwa BoE mungkin mempertahankan jalur kebijakannya tanpa perubahan mendesak.
Data CPI inti diperkirakan menjaga dinamika inflasi inti tanpa terpengaruh lonjakan harga energi global. Secara bulanan, CPI utama diperkirakan tumbuh 0.4% setelah Januari mencatat penurunan 0.5%. Meski rilis inflasi biasa memicu reaksi pasar, kali ini dampaknya dinilai terbatas karena lonjakan energi terkait konflik di Timur Tengah cenderung bersifat sementara.
Secara teknikal, GBP/USD tergelincir tipis sekitar 0.2% dan diperdagangkan mendekati level 1.3380 di sesi Eropa awal. Pergerakan ini menggambarkan kehati-hatian investor ketimbang perubahan tren jangka panjang. Pelaku pasar menunggu konfirmasi lanjutan dari data inflasi dan sinyal kebijakan BoE sebelum menempatkan arah baru.
Sentimen risiko global cenderung risk-on meskipun fokus utama tetap pada data UK dan dinamika kebijakan. Indeks saham berjangka AS dan Asia menunjukkan permintaan terhadap aset berisiko. Pada sesi Asia, S&P 500 futures naik sekitar 0.8%, mencerminkan aliran modal positif meski data domestik belum tuntas.
Di sisi lain, dolar AS tetap menguat secara umum karena laporan bahwa Iran menolak keterlibatannya dalam negosiasi gencatan senjata dengan AS. Indeks DXY diperdagangkan sekitar 99.35, naik sekitar 0.15% sejak kemarin.
Kondisi ini berarti GBP/USD cenderung mengalami tekanan lebih lanjut, meskipun faktor energi dan dinamika kebijakan Bank of England juga mempengaruhi arah jangka pendek. Menurut tim analisis Cetro Trading Insight, pergerakan pasangan ini akan sangat dipengaruhi reaksi terhadap data inflasi Inggris serta pernyataan kebijakan BoE.